Duel Saudara Kembar Perkopian, Latte atau Cappuccino?

Avatar photo

 

Padang, Kabarins.com— Seringkali kita berdiri terpaku di depan kasir kedai kopi, menatap daftar menu dengan keraguan yang tersamar. Di sana tertulis dua nama yang paling sering dipesan namun paling sering pula disalahartikan: Latte dan Cappuccino.

banner 728x90

Bagi mata awam, keduanya tampak seperti saudara kembar identik—cairan kecokelatan dalam cangkir keramik dengan hiasan busa di atasnya. Namun bagi lidah yang terlatih, memesan salah satu dengan harapan mendapatkan rasa yang lain adalah sebuah dosa kecil dalam ritual minum kopi.

Perbedaan mendasar dari kedua primadona kedai kopi ini sejatinya bukan terletak pada jenis biji atau merek susunya, melainkan pada arsitektur rasio antara susu cair dan busa atau microfoam. Keduanya memang dibangun dari pondasi yang sama, yakni espresso sebagai nyawa dan susu steamed sebagai tubuhnya. Namun, di sinilah seni seorang barista bermain; mengatur proporsi untuk menciptakan dua pengalaman sensorik yang bertolak belakang.

Baca Juga: Roni Irawan Sampaikan Hak Jawab, Bantah Keterkaitan dengan Tambang Ilegal dan Kasus Nenek Saudah

Mari kita bicara soal Latte, atau dalam bahasa aslinya Caffè Latte, yang secara harfiah berarti “kopi susu”. Sesuai namanya, minuman ini adalah tentang kenyamanan. Latte adalah pilihan bagi mereka yang mencari pelukan hangat dalam cangkir berukuran besar, biasanya 8 hingga 12 ons. Komposisinya didominasi oleh susu steamed yang melimpah dengan hanya lapisan busa tipis di permukaan—kanvas sempurna bagi barista untuk melukis latte art. Rasanya? Creamy, lembut, dan “sopan” di lidah. Dominasi susu meredam agresivitas espresso, menjadikannya teman yang pas untuk dicampur dengan sirup vanila atau karamel bagi Anda yang menyukai sisi manis kehidupan.

Di sisi lain ring, Cappuccino hadir dengan karakter yang lebih tegas dan klasik. Jika Latte adalah selimut tebal yang nyaman, Cappuccino adalah jaket kulit yang pas badan. Minuman ini memegang teguh prinsip keseimbangan “tiga lapis”: sepertiga espresso, sepertiga susu panas, dan sepertiga busa tebal yang kaku. Busa pada Cappuccino bukan sekadar hiasan, melainkan insulator termal yang menjaga kopi tetap panas, sekaligus memberikan tekstur “berawan” yang khas saat disesap. Disajikan dalam cangkir yang lebih kecil (150-180 ml), rasa kopinya menonjol jauh lebih kuat karena tidak “tenggelam” dalam lautan susu. Penikmat Cappuccino sejati biasanya menolak tambahan sirup dan lebih memilih taburan bubuk kakao atau kayu manis untuk menghormati tradisi Italia.

Baca Juga: Kota Solok Siap Jadi Tuan Rumah Aero Sport Porprov Sumbar XVI Juni–Juli 2026

Jadi, momen berikutnya Anda berdiri di antrean kedai kopi, tentukan apa yang sebenarnya tubuh Anda minta. Apakah Anda menginginkan belaian lembut susu yang creamy untuk menemani obrolan santai sore hari? Ambillah Latte. Atau Anda butuh tendangan kafein yang presisi dengan tekstur busa yang tebal untuk memulai pagi dengan fokus penuh? Maka Cappuccino adalah jawabannya. Jangan lagi tertukar, karena dalam dunia kopi, detail adalah segalanya. (15)

banner 728x90