Pekanbaru, Kabarins.com – Keputusan strategis Markas Besar TNI AU untuk menempatkan armada jet tempur generasi 4.5, Dassault Rafale F4, di Lanud Roesmin Nurjadin (RSN), Pekanbaru, Riau, bukanlah langkah tanpa perhitungan. Langkah ini dinilai sebagai manuver geopolitik yang sangat matang, mengubah pangkalan militer tipe A di Sumatera tersebut menjadi titik determinan dalam pertahanan wilayah barat Indonesia.
Baca juga :
Lanud Roesmin Nurjadin dipilih bukan sekadar karena faktor infrastruktur atau ketersediaan lahan, melainkan karena keunggulan posisinya yang taktis.
Kunci Determinasi: Mengunci Selat Malaka dan Laut Natuna Utara
Alasan utama penempatan Rafale di Pekanbaru adalah kedekatan geografisnya dengan dua “nadi” vital dan titik panas regional:
1. Selat Malaka: Dari Riau, Rafale memiliki jangkauan operasional yang ideal untuk secara efektif mengunci Selat Malaka, jalur perdagangan laut tersibuk di dunia. Pengawasan dan respons cepat di koridor ini menjadi prioritas keamanan nasional dan global.
2. Laut Natuna Utara: Posisi Pekanbaru memangkas waktu reaksi (intercept) secara drastis untuk memberikan respons kilat terhadap eskalasi atau ancaman di Laut Natuna Utara. Dibandingkan jika ditempatkan di Pulau Jawa, penempatan di Riau memastikan kecepatan intervensi yang maksimal.
Dengan kata lain, lokasi ini secara signifikan mengurangi Reaction Time bagi armada pemukul utama TNI AU.
Transformasi ‘Kandang Macan’ dengan Teknologi Generasi 4.5
Lanud Roesmin Nurjadin sendiri sudah lama dikenal sebagai markas bagi skuadron tempur elit TNI AU. Dengan kedatangan Rafale, yang dilengkapi dengan teknologi tempur canggih seperti radar AESA dan rudal udara ke udara mematikan Meteor, Pekanbaru bertransformasi menjadi “kandang macan” yang memberikan efek gentar (deterrence) maksimal.
Keputusan ini adalah pesan tegas dan terukur kepada dunia luar: Indonesia menempatkan pedang tajamnya tepat di depan pintu gerbang kedaulatan yang paling rawan sengketa. Penempatan Rafale di Riau memperkuat deterrence Indonesia di salah satu kawasan paling strategis di Asia Tenggara. ( *01 ).
Baca Juga :
Kemenhaj Optimalkan Pelayanan dan Akuntabilitas Penyelenggaraan Haji 2026







