Balikpapan, Kabarins.com – Senin, 12 Januari 2026, menjadi hari bersejarah bagi peta ketahanan energi nasional. Di bawah langit Balikpapan, Presiden Prabowo Subianto akhirnya meresmikan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Ini bukan sekadar seremonial potong pita biasa; ini adalah pembuktian ambisi senilai USD 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun untuk mengakhiri kecanduan Indonesia terhadap impor BBM.
Didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Prabowo menggunakan panggung ini untuk menegaskan kembali doktrin kemandiriannya yang keras. Dalam pidatonya, Presiden menohok logika dasar bernegara. Menurutnya, status kemerdekaan sebuah bangsa menjadi rancu jika urusan perut dan energi masih bergantung pada belas kasihan negara lain. Ia menyebut situasi ketergantungan energi sebagai hal yang “tidak masuk akal” bagi negara sebesar Indonesia. Narasi ini memperkuat agenda Asta Cita pemerintahannya yang menargetkan swasembada penuh dalam kurun waktu lima hingga tujuh tahun ke depan.
Secara teknis, RDMP Balikpapan adalah lompatan raksasa bagi PT Pertamina (Persero). Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa kilang ini telah berevolusi menjadi monster produksi yang jauh lebih canggih. Kapasitas pengolahannya melonjak drastis dari 260 ribu barel per hari (KBPD) menjadi 360 KBPD. Namun, yang lebih krusial adalah peningkatan kualitas produk yang kini setara standar Euro V. Artinya, Indonesia kini mampu memproduksi bahan bakar yang lebih bersih dan ramah lingkungan secara mandiri, mengurangi kebutuhan impor BBM dan LPG yang selama ini menggerus devisa negara.
Kompleksitas kilang ini pun meningkat tajam, ditandai dengan kenaikan indeks kompleksitas dari 3,7 menjadi 8. Hal ini memungkinkan Pertamina mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi melalui unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Proyek ini terintegrasi penuh dari hulu ke hilir, mulai dari pipa pasokan Senipah sepanjang 78 kilometer hingga terminal BBM Tanjung Batu dan tangki raksasa di Lawe-Lawe yang siap menampung 2 juta barel cadangan.
Bagi Menteri Bahlil, peresmian ini adalah langkah konkret mengurangi defisit neraca perdagangan migas. Dengan kemampuan memproduksi produk turunan yang lebih bernilai (yield naik menjadi 91,8%), RDMP Balikpapan diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi energi, khususnya untuk kawasan Indonesia Timur. Pesan dari Balikpapan hari ini jelas: Indonesia sedang membangun benteng energinya sendiri, dan era ketergantungan impor perlahan mulai ditutup. (15)
Baca Juga: Sinkhole di Situjuah Batua Jadi Perhatian Serius, Wagub Sumbar Imbau Warga Tak Konsumsi Air Langsung







