Jakarta, Kabarins.com – Lantai bursa saham Indonesia kembali mencatatkan sejarah emas pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seolah memiliki imunitas terhadap sentimen negatif global maupun pelemahan mata uang domestik, dengan berhasil menutup hari di level tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) pada posisi 9.075,4. Penguatan sebesar 0,47 persen ini menegaskan dominasi kaum bullish yang bahkan sempat membawa indeks menyentuh level psikologis intraday di 9.100,82.
Fenomena hari ini menyajikan paradoks ekonomi yang menarik. Di saat IHSG berpesta pora dengan nilai transaksi jumbo mencapai Rp28,25 triliun, nilai tukar Rupiah justru tertekan di zona merah, melemah 0,15 persen ke level Rp16.885 per dolar AS. Divergensi ini menunjukkan bahwa selera risiko investor terhadap aset ekuitas Indonesia sedang sangat tinggi, mengabaikan volatilitas kurs yang biasanya menjadi momok bagi pasar modal. Likuiditas pasar sangat deras dengan 50,63 miliar saham berpindah tangan, menandakan partisipasi aktif dari investor institusi maupun ritel.
Baca Juga: Dukung 18 Proyek Danantara, Presiden Desak Riset Kampus Tak Sekadar Tumpukan Kertas
Mesin pendorong rekor ini tidak lain adalah saham-saham berkapitalisasi pasar besar atau Big Caps, khususnya dari sektor perbankan yang menjadi tulang punggung indeks. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) memimpin barisan dengan sumbangan poin terbesar, diikuti oleh manuver agresif dari emiten teknologi dan infrastruktur seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan DCI Indonesia (DCII). Kenaikan kolektif di sektor keuangan dan teknologi ini sukses menetralisir tekanan jual yang terjadi di 331 saham lainnya.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (15/1/2026).
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 15,77 poin
- Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 11,68 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang 10,74 poin
- DCI Indonesia (DCII) menyumbang 7,78 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 7,13 poin
- Bank Negara Indonesia (BBNI) menyumbang 5,89 poin
- Petrosea (PTRO) menyumbang 3,12 poin
- Bukit Uluwatu Villa (BUVA) menyumbang 3,03 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) menyumbang 2,08 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) menyumbang 1,85 poin
Secara teknikal, penembusan level 9.000 secara solid ini membuka ruang apresiasi yang lebih lebar. Riset dari Panin Sekuritas memproyeksikan bahwa jika momentum ini terjaga, IHSG berpotensi menguji level resistensi baru di rentang 9.270 hingga 9.390. Namun, euforia ini tetap dibayangi kewaspadaan. Investor kini menanti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan depan. Dengan posisi Rupiah yang masih rentan dan data pertumbuhan kredit yang diprediksi melambat, Bank Sentral diprediksi akan menahan suku bunga di level 4,75 persen, sebuah langkah konservatif di tengah agresivitas pasar saham.

Kondisi domestik yang perkasa ini cukup kontras dengan sentimen global. Wall Street justru sedang terkoreksi akibat rilis data Producer Price Index (PPI) AS yang menunjukkan inflasi produsen masih membandel. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga. Namun untuk saat ini, investor di Bursa Efek Indonesia tampaknya memilih untuk tidak terlalu memusingkan kabar dari Washington dan lebih fokus menikmati pesta rekor di Jakarta. (15)







