Metro  

Aroma Apam dari Lereng Bukit Tinggam: Tradisi Turun Temurun Menyambut Ramadan dengan Kebersamaan dan Maaf

Pasabar, Kabarins.com — Di kaki perbukitan yang mengelilingi Kampung Tinggam, Talu, Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, aroma harum kue apam menguar di udara Jumat pagi (16/1/2026). Wangi itu bukan sekadar bau makanan, melainkan penanda sebuah tradisi tua yang terus dirawat: ma apam, ritual menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Sejak matahari belum terlalu tinggi, warga kampung berdatangan ke sebuah rumah tua di Tinggam. Di sanalah kuali-kuali besar dipanaskan, adonan tepung disiapkan, dan tawa bercampur cerita mengalir tanpa sekat. Ma apam—atau membuat kue kanji yang mirip serabi—dilakukan secara bergotong royong, melibatkan hampir seluruh warga kampung.

banner 728x90

Ketika adonan kue dituangkan ke dalam kuali, suara desis pelan terdengar. Perlahan, aroma khas kue apam yang manis dan hangat menyeruak, menusuk hidung dan membangkitkan rasa lapar. Perut terasa bergejolak, lidah seolah tak sabar ingin mencicipi hasil olahan bersama itu.

“Kue apam ini nanti kami buat dalam jumlah banyak, lalu dimakan bersama-sama. Inilah kebahagiaan sederhana kami,” ujar Yurnawilis, salah satu penggerak kegiatan ma apam di kampung tersebut.

Bagi Yurnawilis, Yurnawita, dan Yerni Artin, ma apam bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini telah mereka kenal sejak kanak-kanak. Rumah tua tempat kegiatan berlangsung adalah saksi bisu bagaimana orang tua mereka dahulu selalu menggelar ma apam setiap menjelang Ramadan.

“Kegiatan ma apam ini sudah berlangsung sejak turun-temurun. Sejak kami masih kecil, orang tua kami selalu melakukannya. Hingga kini, masih kami lestarikan tradisi ini,” kata Yurnawilis dengan nada penuh kebanggaan.

Kampung Tinggam sendiri dikenal sebagai kawasan yang kental menjaga adat dan merawat tradisi. Dikelilingi perbukitan hijau, kampung ini seolah terlindung dari derasnya arus perubahan. Nilai kebersamaan masih hidup, dan tradisi menjadi perekat sosial yang kuat.

Di balik kesibukan memasak, ma apam menyimpan makna yang lebih dalam. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan batin bagi warga kampung. Mereka yang mungkin sempat berselisih, dipertemukan kembali dalam suasana hangat dan penuh canda.

“Tujuan ma apam ini untuk memperkuat silaturahmi. Kalau ada yang bergesekan selama setahun, di sinilah ajang berbaikan. Sebelum masuk Ramadan, kami saling memaafkan,” tutur Yurnawilis.

Menurutnya, ma apam sarat dengan nilai moral, agama, dan nilai luhur. Kebersamaan, gotong royong, serta kesiapan hati menyambut bulan suci menjadi inti dari kegiatan ini.

Sementara itu, Yurnawita menambahkan bahwa tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda kampung.

“Anak-anak dan remaja kami libatkan. Supaya mereka tahu, ini bukan hanya soal membuat kue, tapi tentang menghormati adat, menjaga hubungan sesama, dan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih,” ujarnya.

Usai kue apam matang dan dinikmati bersama, rangkaian kegiatan belum usai. Warga kampung, ninik mamak, dan para tetua berkumpul kembali untuk doa bersama. Doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur dan harapan agar Ramadan yang akan datang membawa keberkahan, kedamaian, dan persatuan.

Di Kampung Tinggam, ma apam bukan hanya tradisi kuliner. Tapi adalah ritual sosial, spiritual, dan sarat akan kebudayaan. Sebuah cara sederhana untuk menyambut Ramadan dengan kebersamaan, kehangatan, dan saling memaafkan. Dari lereng bukit yang sunyi, aroma apam pun menjadi sinyal bahwa Ramadan telah di depan mata.  (**)

banner 728x90