Kepala DPMD Sumbar Jadi Narasumber Global Knowledge Sharing, Dorong Kerja Sama Internasional Bangun Desa Mandiri

Jakarta, Kabarins.com — Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Sumatera Barat, Yozarwardi Usama Putra, menjadi narasumber dalam kegiatan Global Knowledge Sharing Workshop on Community-Driven Approaches for Resilience yang dihadiri perwakilan dari 15 negara, lembaga keuangan internasional, serta mitra pembangunan global.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bekerja sama dengan Bank Dunia (The World Bank). Lokakarya ini berlangsung di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Selasa (20/1/2026).

banner 728x90

Forum global ini dihadiri oleh pejabat pemerintah dan pembuat kebijakan dari berbagai negara mitra di tingkat regional dan global. Tujuannya adalah memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional terkait pendekatan berbasis komunitas (community-driven approaches) dalam memperkuat ketahanan desa menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga dinamika sosial dan ekonomi.

Dalam paparannya, Yozarwardi menegaskan pentingnya kerja sama lintas negara dan lembaga internasional untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dan desa, khususnya di Sumatera Barat.

“Harapan kami, melalui forum global ini dapat terjalin kerja sama konkret untuk pemberdayaan masyarakat dan desa atau nagari di Sumatera Barat, sehingga desa dan nagari benar-benar menjadi mandiri dan berkeadilan,” ujar Yozarwardi.

BACA JUGA : Bupati Welly Suhery Tegaskan Tak Boleh Ada Anak Pasaman Putus Sekolah, 426 Mahasiswa Terima Bantuan Pasaman Cerdas

Ia juga menegaskan bahwa pembangunan desa merupakan fondasi pembangunan nasional.

“Bangun desa, bangun Indonesia. Desa harus menjadi aktor utama dalam pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.

Selain itu, Yozarwardi memaparkan target dan strategi pemulihan desa-desa di Sumatera Barat yang terdampak bencana. Menurutnya, pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh dan berbasis kebutuhan masyarakat.

Ia menjelaskan, sektor infrastruktur menjadi prioritas utama dengan tingkat urgensi sangat tinggi, meliputi rehabilitasi jalan, jembatan, irigasi, sarana air bersih, fasilitas umum, serta layanan dasar masyarakat.

Di sektor ekonomi, pemulihan difokuskan pada penghidupan masyarakat melalui penguatan UMKM, pertanian, perikanan, dan ekonomi lokal. Sementara pada aspek sosial, pemulihan diarahkan pada penguatan kehidupan sosial dan budaya, kohesi masyarakat, serta perlindungan kelompok rentan.

Untuk sektor lingkungan, Yozarwardi menekankan pentingnya rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), pemulihan lahan kritis, penanaman pohon produktif, serta konservasi lingkungan sebagai langkah jangka panjang menghadapi risiko bencana.

Adapun pada aspek tata kelola desa dan nagari, penguatan kelembagaan dan sistem pemerintahan desa, serta perencanaan pembangunan berbasis risiko bencana menjadi fokus utama. Selain itu, edukasi kebencanaan, pengembangan sistem peringatan dini, dan peningkatan kesiapsiagaan komunitas juga menjadi bagian penting dari strategi pemulihan.

Tak kalah penting, Yozarwardi menyoroti mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, melalui identifikasi, inventarisasi, dan diseminasi nilai-nilai lokal yang terbukti efektif dalam pengurangan risiko bencana.

Melalui forum ini, Sumatera Barat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berkontribusi aktif dalam berbagi praktik baik pembangunan desa berbasis komunitas kepada dunia internasional. (Tim)

BACA JUGA: Gubernur Sumbar Pimpin Rapat Koordinasi Penanganan Krisis Air Bersih di Kota Padang  

banner 728x90