Padang, Kabarins.com — Masyarakat, kaum, dan tokoh masyarakat Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, menyatakan keberatan atas tudingan adanya pembabatan hutan untuk pembukaan lahan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji. Mereka menilai informasi tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan dan berpotensi membentuk opini yang merugikan masyarakat setempat.
Tokoh masyarakat Batu Busuk yang juga Ketua RW, Anwar Z, menegaskan bahwa aktivitas warga di kawasan perbukitan Batu Busuk merupakan kegiatan berladang secara tradisional yang telah berlangsung turun-temurun. Ia membantah adanya pembabatan hutan, terlebih penggunaan alat berat untuk membuka lahan.
“Kami berladang, bukan membabat hutan,” tegas Anwar.
Menurut Anwar, dirinya bersama kaum dan warga lain telah mengelola lahan tersebut sejak generasi terdahulu. Pengelolaan lahan diwariskan dari mamak kepada kemenakan dan terus berlangsung hingga sekarang. Lahan yang digarap masing-masing kaum juga berbatasan satu sama lain.
“Jadi, kami berladang sudah turun-temurun, dari mamak ke kemenakan, begitu seterusnya,” ujar Anwar.
Ia menjelaskan, lahan yang dikelola masyarakat ditanami berbagai tanaman perkebunan, seperti durian, manggis, alpukat, dan tanaman buah lainnya. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari mata pencaharian warga setempat.
“Ini ladang kaum kami. Kami menanaminya dengan pohon durian, manggis, alpukat, dan sejenis tanaman lainnya,” katanya.
Anwar menyebutkan, sebagian pohon durian di ladang masyarakat bahkan telah berumur hingga 80 tahun. Hasil perkebunan, terutama durian saat musim panen, menjadi sumber pendapatan penting bagi warga dan turut menopang perekonomian masyarakat Batu Busuk.
Bantah Penggunaan Alat Berat
Anwar, yang telah menjabat sebagai Ketua RW selama 34 tahun, kembali menegaskan bahwa tudingan pembabatan hutan menggunakan alat berat tidak sesuai dengan kondisi medan di lokasi tersebut.
Menurutnya, akses menuju kawasan perladangan cukup sulit sehingga alat berat tidak mungkin dengan mudah mencapai lokasi yang dimaksud.
“Tidak mungkin alat berat bisa masuk. Sampai ka Patamuan, salah satu lokasi dengan medan yang sulit, saja tidak bisa, apalagi sampai ke ladang yang lokasinya lebih jauh,” ujarnya.
Ia juga mengaku terkejut ketika ditanya mengenai dugaan aktivitas penambangan di lokasi tersebut. Anwar membantah adanya aktivitas pertambangan sebagaimana yang ditanyakan kepadanya.
Masyarakat Batu Busuk menyesalkan pemberitaan yang dinilai tidak menggambarkan fakta di lapangan. Mereka khawatir informasi tersebut merugikan nama baik warga yang selama ini mengelola lahan secara tradisional.
Sebelumnya, kawasan hulu DAS Kuranji kembali menjadi sorotan setelah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat mengungkap dugaan pembukaan lahan di kawasan yang disebut sebagai wilayah lindung dan konservasi.
Temuan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif WALHI Sumbar, Tommy Adam, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa lalu (6/10/2026). WALHI menyatakan dugaan pembukaan lahan itu diketahui melalui penelusuran lapangan dan analisis spasial.
WALHI menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena kawasan hulu DAS Kuranji memiliki fungsi ekologis penting bagi Kota Padang. Perubahan tutupan lahan di bagian hulu dinilai dapat memengaruhi kemampuan tanah dan vegetasi menyerap air hujan, sekaligus berpotensi meningkatkan aliran permukaan ketika terjadi hujan berintensitas tinggi.
Tommy juga menyebut adanya longsoran di kawasan tersebut.(*02)





