Pesta Usai, Emas Terjun Bebas ke Bawah US$5.000

Avatar photo

Jakarta, Kabarins.com – Euforia pasar emas yang sempat menyentuh langit akhirnya terhempas ke bumi dengan keras pada penutupan perdagangan pekan ini. Setelah sempat mencicipi rekor tertinggi sepanjang masa di level US$5.500 per troy ons pada pertengahan pekan, harga logam mulia ini mengalami aksi jual masif yang brutal. Pada perdagangan Jumat (30/1/2026), harga emas di pasar spot ditutup anjlok 9,11% hingga terperosok ke level US$4.887,1 per troy ons. Kejatuhan ini menandai level terendah dalam sepekan terakhir, bahkan dalam sesi intraday, harga emas sempat longsor lebih dari 12%.

banner 728x90

Sentimen pasar berbalik arah secara drastis bukan tanpa sebab. Pemicu utamanya datang dari Washington, saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengumumkan nama Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Federal Reserve menggantikan Jerome ‘Jay’ Powell. Sosok Warsh yang dikenal hawkish dan antikompromi terhadap inflasi mengirimkan sinyal kuat ke pasar: era suku bunga rendah mungkin tidak akan datang secepat yang diharapkan. Bagi investor, ini adalah lonceng peringatan. Emas, sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), menjadi kalah seksi dan kurang menguntungkan dibandingkan Dolar AS yang diprediksi akan menguat di bawah rezim moneter Warsh.

Baca Juga: Verry Mulyadi: Apresiasi Kegiatan Baksos IOX Offroad Exspedition di Kabupaten Solok

Aakash Doshi, Global Head of Gold and Metals Strategy di State Street Investment Management, menilai langkah ini memicu aksi rebalancing besar-besaran. Konsensus pasar yang sebelumnya sibuk membuang Dolar AS dan memborong emas selama dua hingga tiga pekan terakhir, kini berbalik arah secara serentak. Grafik pergerakan harga pun memperlihatkan bagaimana reli panjang yang dibangun selama delapan hari berturut-turut—dengan kenaikan akumulatif hampir 18%—terhapus signifikan hanya dalam satu hari perdagangan.

Secara teknikal, indikator pasar sebenarnya sudah menyalakan lampu kuning sebelum kejatuhan ini terjadi. Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 75, angka yang melampaui ambang batas 70 dan menandakan kondisi jenuh beli (overbought) yang ekstrem. Meski tren mingguan masih terhitung bullish dengan kenaikan 4,94%, risiko koreksi lanjutan di pekan depan masih mengintai. Para pedagang kini mencermati level pivot point di US$4.868.

Jika tekanan jual berlanjut, harga emas berisiko menguji titik *support* di US$4.662 (MA-5) hingga support terjauh di US$4.385 per troy ons. (15)

banner 728x90