Jakarta,Kabarins.com — Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat hilirisasi sektor pertanian sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan ini diyakini menjadi kunci dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, hilirisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam memperkuat daya saing sektor pertanian nasional.
Baca Juga :
“Hilirisasi adalah keniscayaan. Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia, terutama petani,” ujar Mentan Amran, Jumat (20/3/2026).
Selama ini, lanjutnya, sebagian besar komoditas pertanian Indonesia masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku. Akibatnya, keuntungan terbesar justru dinikmati oleh negara pengolah. Untuk itu, Kementan mulai mengubah paradigma dengan mendorong petani masuk dalam rantai industri dari hulu hingga hilir.
“Hari ini kita ubah paradigma. Petani tidak boleh hanya menjual hasil panen, tetapi harus menjadi bagian dari industri. Dengan begitu, nilai tambah meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” tegasnya.
Mengacu pada arahan Presiden Prabowo yang menitikberatkan industrialisasi berbasis sumber daya alam, sektor pertanian dinilai memiliki peran strategis sebagai fondasi hilirisasi nasional. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah konsep “pohon industri” untuk memaksimalkan turunan produk dari setiap komoditas.
“Setiap komoditas punya banyak turunan. Kelapa, kakao, hingga singkong bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Inilah kekuatan hilirisasi yang harus kita dorong,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, Kementan mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk program hilirisasi perkebunan. Program ini menargetkan pengembangan 870 ribu hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027, dengan fokus pada komoditas strategis seperti kelapa, kakao, kopi, jambu mete, lada, dan pala.
Melalui program tersebut, pemerintah juga mendorong pembangunan industri pengolahan di sentra produksi guna menciptakan lapangan kerja di pedesaan.
“Kalau industri hadir di desa, maka ekonomi desa bergerak. Anak muda punya peluang tidak hanya bertani, tetapi juga bekerja di sektor pengolahan, pemasaran, hingga ekspor,” ujarnya.
Lebih jauh, Mentan Amran menyoroti besarnya potensi komoditas unggulan Indonesia yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Ia menilai hilirisasi menjadi solusi agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga produsen produk bernilai tinggi di pasar global.
“Kita punya bahan baku terbaik di dunia, tetapi produk jadinya banyak dikuasai negara lain. Ini yang harus kita ubah,” katanya.
Kementan, lanjutnya, siap menjadi motor penggerak hilirisasi sektor pertanian sesuai arahan Presiden Prabowo.
“Hilirisasi harus kita percepat dan kawal bersama. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kedaulatan dan masa depan bangsa,” pungkasnya. (*01).
Baca Juga :







