Jakarta, Kabarins.com – Langkah nyata menuju kedaulatan energi akhirnya terwujud. Presiden Prabowo Subianto secara resmi meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur. Kehadiran kilang ini menjadi catatan sejarah karena Indonesia akhirnya memiliki fasilitas kilang baru setelah absen selama 32 tahun.
Proyek strategis nasional ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur biasa, melainkan simbol perlawanan terhadap ketergantungan impor energi yang telah membebani neraca ekonomi selama puluhan tahun.
Kapasitas Raksasa: Solusi Defisit Migas
RDMP Balikpapan hadir dengan kapasitas produksi mencapai 360 ribu barel per hari. Angka ini diproyeksikan mampu memenuhi sekitar 22-25 persen kebutuhan energi nasional, khususnya untuk bahan bakar jenis Solar.
Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya menegaskan bahwa kedaulatan energi adalah harga mati bagi bangsa yang ingin maju.
Indonesia tidak boleh terus-menerus bergantung pada energi dari luar negeri. Kita harus berdaulat dan mandiri di tanah sendiri,” tegas Presiden.
Dampak Strategis Bagi Ekonomi Nasional
Selain memperkuat ketahanan energi, operasional kilang ini diharapkan memberikan dampak instan pada:
1. Menekan Defisit Neraca Migas: Mengurangi kebutuhan devisa untuk impor BBM.
2. Efisiensi Distribusi: Mempercepat penyaluran energi di wilayah Indonesia Tengah dan Timur.
3. Kedaulatan Politik: Memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global.
Ujian Berikutnya: Tata Kelola dan Konsistensi
Meski menjadi langkah besar, para pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan RDMP Balikpapan akan diuji oleh keberlanjutan pasokan bahan baku dan transparansi tata kelola. Agar visi swasembada energi tidak berhenti sebagai simbol, diperlukan reformasi menyeluruh di sektor hulu hingga hilir migas.
RDMP Balikpapan kini menjadi mercusuar baru bagi harapan Indonesia Mandiri. Tantangan ke depan adalah memastikan fasilitas ini beroperasi optimal demi kesejahteraan rakyat.(*01)
Baca juga :
Revisi Rencana Induk, Menteri PU Minta Tambahan Rp23 Triliun demi ‘Bentengi’ Sungai Sumatra







