Profil Suhatman Imam: Legenda Minang Sang Otak di Balik Proyek Revolusioner PSSI Primavera

Avatar photo

Padang,Kabarins.com – Berbicara mengenai sejarah sepak bola Indonesia, tak lengkap rasanya tanpa menyebut nama Suhatman Imam. Sosok “Urang Awak” ini bukan sekadar mantan pemain, melainkan arsitek jenius yang meletakkan fondasi modern bagi pembinaan usia dini di tanah air melalui ide revolusionernya.

Baca Juga :

banner 728x90

Benny Utama Apresiasi Gerak Cepat Polres Pasaman Ungkap Penganiayaan Lansia di Rao  

Dari tanah Minangkabau, Suhatman Imam berhasil mengubah wajah sepak bola nasional. Berikut adalah perjalanan inspiratif sang legenda yang dikenal memiliki integritas tanpa kompromi.

Dari Kapten Timnas Hingga Menjadi ‘Il Capitano’ di Lapangan

​Lahir dan besar di Padang, Suhatman memulai kariernya di klub lokal kebanggaan masyarakat, PSP Padang. Bakat alaminya membawanya ke skuad Garuda pada akhir tahun 1970-an.

​Puncak karier bermainnya terjadi pada Kejuaraan Asia 1977 di Bangkok, di mana ia dipercaya menjadi kapten Timnas Indonesia. Karakter kepemimpinannya yang tegas dan disiplin khas petarung Minang menjadikannya sosok yang sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan.

Pencetus Ide PSSI Primavera di Italia

​Kontribusi paling fenomenal Suhatman Imam bagi bangsa terjadi pada tahun 1993. Dengan visi yang melampaui zamannya, ia menjadi otak di balik pengiriman bakat muda Indonesia untuk berguru ke Italia—kiblat sepak bola dunia saat itu.

​Gagasannya melahirkan program PSSI Primavera. Suhatman bahkan dipercaya langsung untuk melatih tim tersebut di Negeri Pizza. Dari tangan dinginnya, muncul nama-nama besar yang menjadi tulang punggung Timnas Indonesia selama dekade berikutnya, seperti:

  • ​Kurniawan Dwi Yulianto
  • ​Bima Sakti
  • ​Bejo Sugiantoro
  • ​Yeyen Tumena

​Di Italia pula, ia mendalami taktik Catenaccio (pertahanan grendel) yang kemudian ia adaptasi untuk memperkuat lini pertahanan tim-tim di tanah air.

Membangun Dinasti Pelatih Hebat dari Sumatra Barat

​Sekembalinya ke Sumatra Barat, Suhatman Imam tidak hanya fokus melatih klub. Ia mendedikasikan dirinya sebagai mentor bagi generasi pelatih muda. Di bawah bimbingan strategisnya, Semen Padang FC berhasil meraih masa kejayaan, termasuk menjuarai Liga Primer Indonesia (LPI) musim 2011/2012.

​Suhatman adalah “guru” bagi sederet pelatih top Indonesia saat ini. Nama-nama seperti Indra Sjafri, Nil Maizar, Jafri Sastra, hingga Syafrianto Rusli adalah sedikit dari sekian banyak pelatih yang menyerap filosofinya.

​”Prinsip utamanya adalah integritas tinggi, disiplin baja, dan keberanian menolak pemain titipan,” kenang para anak asuhnya.

 

Warisan “Alam Takambang Jadi Guru”

​Meski sempat berkarier sebagai pegawai bank dan melatih klub besar seperti Persebaya Surabaya, hati Suhatman selalu tertambat pada si kulit bundar. Ia memegang teguh filosofi Minang “Alam Takambang Jadi Guru”—belajar dari mana saja, termasuk dari Italia, untuk dibawa pulang membangun negeri.

​Kisah Suhatman Imam adalah pengingat bahwa kesuksesan sepak bola tidak hanya soal fisik di lapangan, melainkan soal kecerdasan taktik dan kejujuran dalam membina talenta. Ia adalah bukti nyata bahwa putra daerah mampu menjadi penggerak revolusi olahraga di tingkat nasional.(*01).

Baca Juga :

Gubernur Sumbar Apresiasi Komitmen Pihak Terkait dalam Percepatan Penyusunan R3P

banner 728x90