Menilik Sejarah Bus ALS: Legenda Transportasi ‘Si Raja Jalanan’ yang Eksis Sejak 1966, Melintasi Generasi!

Padang,Kabarins.com – Di belantika transportasi darat Indonesia, sulit untuk tidak menyebut nama Antar Lintas Sumatera (ALS). Bus dengan ciri khas warna hijau dan deretan paket di atapnya ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan legenda hidup yang telah membelah jalur lintas Sumatera sejak puluhan tahun silam. Namun, benarkah ALS baru melegenda sejak tahun 70-an?

Lahir Sebelum Era 70-an

​Faktanya, sejarah ALS bermula lebih jauh ke belakang. Perusahaan Otobus (PO) ini resmi berdiri pada 29 September 1966 di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Didirikan oleh H. Sati Lubis dan beberapa pengusaha lokal, ALS hadir untuk menjawab tantangan sulitnya akses transportasi di daratan Sumatera pada masa awal kemerdekaan.

banner 728x90

Baca Juga :

Profil Suhatman Imam: Legenda Minang Sang Otak di Balik Proyek Revolusioner PSSI Primavera

​Barulah pada era 1970-an, popularitas ALS melonjak tajam seiring dengan perbaikan infrastruktur Jalan Lintas Sumatera. Di masa inilah, ALS mengukuhkan posisinya sebagai “Si Raja Jalanan” yang menghubungkan ujung utara Sumatera hingga ke Pulau Jawa.

Pemegang Rekor Trayek Terjauh di Indonesia

​Salah satu alasan mengapa ALS melegenda hingga sekarang adalah keberaniannya mengambil rute ekstrem. ALS memegang rekor sebagai bus dengan trayek terjauh di Indonesia, yakni rute Medan – Jember yang menempuh jarak sekitar 3.000 kilometer.

​Perjalanan ini memakan waktu hingga satu minggu, melewati rute Lintas Tengah Sumatera yang menantang, menyeberangi Selat Sunda, hingga membelah Pulau Jawa. Keunikan bus ini adalah kemampuannya mengangkut barang (paket) dalam jumlah besar di atap bus, yang menjadi penyelamat bagi para perantau Minang dan Mandailing saat mudik.

Ketangguhan di Jalur “Maut” Sumatera

​Mengapa ALS tetap bertahan di tengah gempuran transportasi udara dan kapal laut? Jawabannya adalah loyalitas dan ketangguhan. Sopir-sopir ALS dikenal memiliki mental baja dan navigasi yang luar biasa saat menghadapi jalur berkelok seperti Liku Sembilan atau Kelok Sembilan.

​Hingga tahun 2026 ini, ALS terus melakukan peremajaan armada. Dari yang dulunya menggunakan mesin Mercedes-Benz klasik, kini mereka mulai mengadopsi sasis modern untuk kenyamanan penumpang, namun tetap mempertahankan identitas warna hijau klasiknya yang ikonik.

Filosofi Kehangatan di Atas Roda

​Bagi masyarakat Sumatera, naik bus ALS bukan sekadar berpindah tempat, tapi soal rasa kekeluargaan. Di dalam bus, penumpang dari berbagai latar belakang budaya berinteraksi dalam waktu yang lama, menciptakan ikatan emosional yang tidak ditemukan di moda transportasi lain.

​Kini, di bawah kepemimpinan generasi penerus, PO ALS terus beradaptasi dengan teknologi digital, namun tetap menjaga nilai-nilai luhur yang ditanamkan sejak tahun 1966. ALS bukan hanya sejarah, ia adalah bagian dari denyut nadi ekonomi dan sosial masyarakat Sumatera yang terus bergerak maju. ( *01 ).

Baca Juga :

Wagub Sumbar Minta Polisi Bertindak Cepat Usut Penganiayaan Nenek Saudah di Pasaman

banner 728x90