Menang di Infrastruktur AI, Korea Selatan Rebut Mahkota Teknologi Paling Berharga di Asia dari Tangan China

Samsung dan SK Hynix Akan Menjadi Duo China dengan Nilai Tertinggi Seiring Pergeseran Tren Booming AI.
Samsung dan SK Hynix Akan Menjadi Duo China dengan Nilai Tertinggi Seiring Pergeseran Tren Booming AI.

Seoul, Kabarins.com – Peta kekuatan teknologi di Asia resmi mengalami pergeseran tektonik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, valuasi pasar gabungan dua raksasa Korea Selatan, Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., berhasil menyalip total kapitalisasi pasar dua kaisar internet China, Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi angka di papan bursa, melainkan sinyal keras bahwa demam kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global telah mengubah arah mata angin investasi: dari platform perangkat lunak ke infrastruktur perangkat keras.

Baca Juga: Sempat Anjlok 1 Persen, IHSG Sesi I Mengamuk Naik 1,57% Berkat Astra dan Barito Pacific

banner 728x90

Pada perdagangan Selasa waktu setempat, valuasi gabungan duo Korea tersebut menembus angka fantastis US$1,11 triliun (sekitar Rp18.631 triliun). Angka ini sedikit, namun cukup signifikan, untuk melampaui raksasa teknologi China yang selama satu dekade terakhir dianggap sebagai simbol kemajuan digital Asia. Pergeseran ini menegaskan bahwa dalam era booming AI saat ini, pasar lebih menghargai mereka yang memproduksi “sekop dan cangkul” (chip memori) ketimbang mereka yang menggali emasnya (aplikasi dan e-commerce).

Korea Selatan kini menikmati buah manis dari strategi mereka memposisikan diri sebagai pusat rantai pasokan global. Samsung dan SK Hynix menjadi pemasok krusial bagi Nvidia Corp., raja chip dunia, khususnya dalam penyediaan High-Bandwidth Memory (HBM). Simon Woo, Kepala Riset Korea di BofA Global Research, menyebut fenomena ini sebagai perubahan paradigma. Chip memori tidak lagi sekadar komponen pelengkap alias komoditas murah untuk PC atau ponsel, melainkan telah berevolusi menjadi aset strategis yang kritis. Woo bahkan memprediksi “siklus super” memori ini akan terus berlanjut hingga tahun 2027.

Baca Juga: Gubernur Mahyeldi: Rakornas Momentum Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah

Di sisi lain, China menempuh jalan yang berbeda dan lebih terjal. Yiping Liao, Manajer Portofolio di Franklin Templeton Global Investments, menganalisis bahwa sementara Korea Selatan fokus pada spesialisasi rantai pasokan global, China justru sibuk membangun kemandirian teknologi (end-to-end) demi bertahan dari sanksi pembatasan ekspor Amerika Serikat. Meskipun saham desainer chip lokal China seperti Moore Threads mulai menggeliat, raksasa seperti Alibaba dan Tencent cenderung “stagnan” karena fokus mereka menggunakan AI hanya untuk menopang bisnis inti, bukan menjual infrastruktur dasarnya.

Data pasar tidak bisa berbohong. Sepanjang tahun ini, saham Samsung telah melesat 34 persen dan SK Hynix terbang 37 persen. Bandingkan dengan Alibaba yang hanya naik 14 persen dan Tencent yang jalan di tempat. Timothy Moe dari Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan bahwa industri semikonduktor akan menyumbang 60 persen dari pertumbuhan laba perusahaan Korea tahun ini.

Meski demikian, Indrani De dari FTSE Russell mengingatkan bahwa permainan belum berakhir. Korea Selatan memang unggul secara struktural di perangkat keras saat ini, namun ketergantungan pada siklus pasokan-permintaan chip menyimpan risiko volatilitas tersendiri. Sementara itu, ekosistem manufaktur China yang masif tetap menyimpan potensi skalabilitas yang cepat jika mereka berhasil memecahkan teka-teki kemandirian teknologi tersebut.

banner 728x90