Jakarta, Kabarins.com – Rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini bukan lagi sekadar wacana diplomasi, melainkan langkah finalisasi dari sebuah negosiasi dagang yang alot. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di Istana Negara, Selasa (3/2/2026), mengonfirmasi bahwa Kementerian Luar Negeri di bawah komando Sugiono tengah mematangkan jadwal pertemuan kedua kepala negara. Namun, di balik seremonial jabat tangan yang akan terjadi, tersimpan detail kesepakatan ekonomi yang menuntut “pengorbanan” strategis dari sisi Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim bahwa proses negosiasi tarif sebenarnya sudah rampung. Tahap penyusunan dokumen formal atau legal drafting disebut telah mencapai 90 persen, tinggal menunggu ratifikasi dari legislatif kedua negara—Kongres di pihak AS dan DPR di pihak Indonesia. Sepintas, kabar ini terdengar positif. Produk ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam “hanya” akan dikenakan tarif 19 persen. Angka ini memang jauh lebih ringan dibandingkan ancaman awal Trump pada April 2025 yang berniat memukul rata tarif impor sebesar 32 persen bagi negara mitra dagangnya.

Akan tetapi, penurunan tarif tersebut tidak gratis. Dalam negosiasi ini, Amerika Serikat menyodorkan syarat yang berpotensi menggerus kemandirian industri nasional. AS meminta prinsip resiprokal yang cukup ekstrem: pembebasan tarif bagi seluruh produk perusahaan AS yang masuk ke Indonesia, serta—yang paling krusial—permintaan pengecualian dari persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Permintaan pengecualian TKDN ini adalah “pil pahit” yang harus ditelan pemerintah. Selama ini, TKDN adalah instrumen proteksi utama Indonesia untuk memaksa investor asing membangun pabrik dan menyerap tenaga kerja lokal, bukan sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar barang jadi. Jika Prabowo menyetujui klausul ini demi mengamankan tarif ekspor 19 persen, maka produk-produk AS akan melenggang bebas di pasar domestik tanpa kewajiban menggunakan komponen lokal, yang bisa memukul daya saing industri penunjang di dalam negeri.
Baca Juga: Sempat Anjlok 1 Persen, IHSG Sesi I Mengamuk Naik 1,57% Berkat Astra dan Barito Pacific
Bola panas kini ada di tangan Presiden Prabowo. Pertemuan dengan Trump nanti bukan sekadar penandatanganan dokumen, melainkan penentuan apakah “diskon” tarif ekspor yang didapat sepadan dengan risiko membiarkan produk AS membanjiri pasar tanpa filter TKDN. Airlangga sendiri enggan merinci lebih jauh mengenai konsesi ini, menyerahkan sepenuhnya pengumuman detail kesepakatan kepada kedua presiden sebagai hak prerogatif pimpinan negara. (15)







