Padang, Kabarins.com – Awal pekan ini menjadi panggung pesta bagi mata uang Asia. Rupiah ikut berdansa di zona hijau, menutup perdagangan Senin (9/2/2026) dengan apresiasi 0,37 persen di level Rp16.803 per dolar AS. Mata uang Garuda sukses memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS yang susut ke posisi 97,40. Sentimen positif regional juga datang dari Thailand dan Jepang. Kemenangan Partai Bhumjaithai di Thailand dan terpilihnya Sanae Takaichi di Jepang memberikan kepastian politik yang langsung direspons positif oleh pasar. Baht Thailand bahkan melonjak 1,29 persen, memimpin reli di kawasan ini.
Baca Juga: Bupati Welly Tegur Keras Gaya Kerja ASN, Disiplin Kerja Dinilai Masih Lemah
Namun, di balik pesta pora pasar spot, ada sinyal bahaya yang menyala terang di pasar surat utang negara. Cerita manis di pasar valas sama sekali tidak menular ke pasar obligasi. Investor justru ramai-ramai melakukan aksi jual atau sell-off pada surat utang Indonesia. Pemicu utamanya adalah penurunan outlook kredit oleh lembaga pemeringkat Moody’s pekan lalu yang ternyata masih menyisakan trauma bagi pemegang aset. Aksi jual masif ini secara otomatis mengerek imbal hasil atau yield di hampir seluruh tenor, menandakan harga obligasi yang jatuh.

Data Bloomberg memperlihatkan lonjakan yield yang merata dan cukup mengkhawatirkan. Surat utang tenor pendek satu tahun melompat signifikan sebesar 8,6 basis poin ke level 5,07 persen. Sementara itu, tenor acuan 10 tahun naik 3 basis poin ke level 6,46 persen. Bahkan tenor panjang 20 hingga 40 tahun kini mendekati level yield 6,78 persen. Kenaikan imbal hasil di tenor pendek yang begitu agresif mengindikasikan bahwa persepsi risiko jangka pendek meningkat drastis di mata investor. Pasar kini menuntut premi risiko yang jauh lebih mahal untuk memegang utang pemerintah Indonesia.

Baca Juga: Rutan Kelas IIB Lubuk Sikaping Salurkan Bantuan Sosial bagi Korban Kebakaran Jambak
Fenomena divergensi ini mengirim pesan kewaspadaan tinggi. Penguatan rupiah hari ini sejatinya rapuh karena lebih banyak didorong oleh faktor eksternal alias “nasib baik” karena dolar AS sedang lesu. Sementara itu, fundamental aset domestik sedang digoyang isu Moody’s yang memicu arus modal keluar. Jika pendarahan di pasar surat utang terus berlanjut, tekanan ini lambat laun akan menyeret rupiah kembali ke zona merah. (15)







