Braditi Moulevey Buka Suara di Tengah Krisis, Nasib Semen Padang FC di Ujung Musim Kian Tertekan

Avatar photo

Padang,Kabarins.com– Musim belum berakhir, tetapi tekanan sudah terasa seperti garis finis bagi Semen Padang FC. Dalam beberapa pekan terakhir, tim kebanggaan Sumatera Barat itu seolah berjalan di lorong panjang tanpa cahaya—hasil tak kunjung berpihak, sementara waktu terus menipis.

Lima kekalahan beruntun menjadi sinyal paling nyata bahwa situasi tidak sedang baik-baik saja. Kekalahan terbaru dari Madura United FC di Stadion Haji Agus Salim, Rabu (29/4/2026), semakin menegaskan betapa rapuhnya posisi Kabau Sirah saat ini.

Baca juga:Ketua TP PKK Pasaman Dorong Optimalisasi 10 Program Pokok PKK hingga Nagari

Gol cepat yang dicetak Jose Brandao Junior pada menit ke-15 bukan hanya menentukan hasil pertandingan, tetapi juga seperti memperpanjang daftar luka yang belum sempat sembuh.

Di tengah kondisi itu, Komisaris klub, Braditi Moulevey, memilih untuk tidak berdiam diri. Ia muncul ke ruang publik, bukan sekadar memberi klarifikasi, tetapi juga membuka sisi yang selama ini jarang terlihat—tentang bagaimana klub bertahan di balik layar.

Menurutnya, persoalan Semen Padang FC tidak hanya terjadi di lapangan. Di luar pertandingan, klub menghadapi tekanan finansial yang tidak ringan. Ketergantungan pada sponsor yang mencapai sekitar 90 persen membuat ruang gerak manajemen menjadi terbatas.

“Sepak bola itu bukan hanya soal taktik dan strategi, tapi juga soal bagaimana klub bisa tetap hidup,” kira-kira begitu pesan yang ingin ia sampaikan.

Proses mendapatkan sponsor, lanjutnya, bukan perkara sederhana. Ada tuntutan administratif, kepercayaan pasar, hingga beban masa lalu yang masih membayangi perjalanan klub hingga hari ini.

Baca juga:Menteri Pariwisata Kunjungi Sumbar, Gubernur Usulkan Perpanjangan Runway Bandara Mentawai

Di sisi lain, upaya pembenahan sebenarnya tidak pernah berhenti. Pergantian pemain, evaluasi pelatih, hingga dorongan menghadirkan direktur teknik berkualitas telah dilakukan. Namun, sepak bola tidak selalu berjalan linear—perubahan tidak selalu langsung berbuah hasil.

Fakta di klasemen menjadi cermin paling jujur. Dengan 20 poin dari 30 pertandingan, Semen Padang masih tertahan di peringkat ke-17, tertinggal dari Persis Solo dan tim-tim di atasnya.

Bagi Moulevey, situasi ini bukan sekadar angka. Ada beban emosional yang turut ia rasakan. Ia bahkan menegaskan bahwa keterlibatannya di klub dilandasi komitmen pribadi, tanpa imbalan finansial.

Namun, ia juga mengingatkan satu hal penting: Komisaris bukanlah pengambil keputusan utama. Ada batas peran yang sering kali luput dipahami publik.

Sementara itu, dari sisi teknis, pelatih Imran Nahumarury tidak menutup mata terhadap realita yang ada. Ia memilih berdiri di garis depan, memikul tanggung jawab atas hasil yang belum sesuai harapan.

Menurutnya, persoalan utama tim bukan lagi sekadar taktik. Aspek mental justru menjadi titik paling krusial—ketika tekanan datang, tidak semua pemain mampu bertahan dalam intensitas yang sama.

“Sepak bola di level ini bukan hanya soal kemampuan, tapi juga keberanian menghadapi tekanan,” menjadi refleksi yang tersirat dari pernyataannya.

Baca juga:SMAN 2 Painan Gelar Wisuda Tahfiz ke-5, Cetak Generasi Qurani Berprestasi

Dengan empat pertandingan tersisa, peluang memang semakin tipis jika dilihat secara matematis. Namun, di sepak bola, harapan sering kali bertahan lebih lama dari hitung-hitungan angka.

Kini, Semen Padang FC berada di persimpangan: menyerah pada keadaan, atau menulis cerita berbeda di detik-detik terakhir musim.

Yang pasti, waktu tidak lagi berpihak. Dan setiap pertandingan tersisa akan menjadi lebih dari sekadar laga—ia adalah penentu nasib.(*01L)