PADANG, Kabarins.com – Nasib klub kebanggaan urang awak, Semen Padang FC, kini benar-benar di ujung tanduk. Performa yang terus merosot terancam terlempar dari kasta tertinggi Liga 1. Di tengah situasi genting itu, sorotan tajam mulai mengarah ke manajemen tim.
Mantan manajer Semen Padang U-21 Verry Mulyadi langsung angkat suara. Ia tak tinggal diam melihat klub yang pernah ia besarkan terpuruk. Dengan nada tegas, Verry menegaskan bahwa klub sudah salah kelola.
Ia mendesak dilakukan perombakan manajemen sekaligus audit keuangan secara profesional di tubuh PT Kabau Sirah.
“Lakukan audit secara profesional tiga tahun belakangan. Saya menilai ada kebocoran-kebocoran dalam penggunaan anggaran tim. PT Semen Padang sebagai induk harus turunkan tim audit. Jangan biarkan PT Kabau Sirah seperti ini,” ucap Verry kepada kabarins.com Kamis (30/4/2026).
Pria yang akrab disapa Pen Lori menyoroti pengelolaan keuangan klub yang dinilai amburadul dan tidak profesional.
Baca Juga:
Pen Lori mengungkap dugaan adanya kebocoran keuangan di internal klub. Seperti ada indikasi penjualan jersey yang diduga masuk ke rekening pribadi. Seharusnya transaksi masuk ke rekening perusahaan
Kemudian ada hutang pajak klub masa lalu yang jadi beban saat ini. Seharusnya hal ini bisa menjadi urusan konsultan pajak. Karena perusahaan tergolong cukup besar mengelola keuangannya.
Baca Juga:Ketua TP PKK Pasaman Dorong Optimalisasi 10 Program Pokok PKK hingga Nagari
“Ini yang harus diaudit. Dari situ nanti akan terlihat ke mana saja aliran uang tersebut,” ungkapnya.
Ia juga menyayangkan sikap oknum pengurus yang sibuk mengejar reward. Menurutnya, dana dari berbagai pihak seharusnya diposisikan sebagai reward untuk tim, bukan malah menjadi kewajiban bagi pihak yang memberi bonus. Karena bonus untuk pemain sudah diatur dalam klausul kontrak.
“Sebagai contoh, kalau Bapak Andre Rosiade berikan uang, itu namanya reward, bukan bonus. Tidak ada pula kewajiban beliau memberikan reward setiap menang. Tapi yang terjadi, oknum manajemen malah meminta terus kepada Bapak Andre. Bahkan pemain pun juga ikut-ikutan meminta, sehingga orientasi pemain jadi salah. Apalagi SPFC juga punya pemain asing, dan membuat psikologi mereka rusak jika tidak diberi reward. Ini kan salah kaprah namanya,” ucapnya terheran
Rasa kecewa Verry bukan tanpa alasan. Sebagai sosok yang pernah ikut membangun fondasi klub, ia mengaku terpukul melihat Semen Padang FC kini justru menjadi bulan-bulanan lawan di Kompetisi Liga I 2025-2026 dan membuat tim hampir pasti terdegradasi.
“Puluhan tahun lalu kita ikut membesarkan tim ini. Jadi wajar kalau saya geram melihat kondisi sekarang,” ujarnya.
Mengakhiri pernyataannya, Verry menegaskan pentingnya langkah besar usai kompetisi berakhir. Ia mendorong dilakukan reorganisasi total demi menyelamatkan masa depan Semen Padang FC.
“Setelah kompetisi ini, harus ada perombakan total. Tapi jangan saling menyalahkan apalagi saling hujat. Kita fokus membenahi agar klub ini kembali ke relnya,” tutupnya. (*02)





