PADANG Kabarins com – Ketegangan geopolitik dunia memuncak di awal tahun 2026. Dua kekuatan besar, Rusia dan China, secara resmi melayangkan kecaman keras terhadap aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Intervensi bersenjata ini dinilai sebagai tindakan hegemonik atau “aksi koboi” yang mengangkangi hukum internasional serta kedaulatan negara.
Baca Juga :
Kronologi Penangkapan Presiden Maduro
Pada 3 Januari 2026, militer Amerika Serikat melancarkan operasi serangan udara besar-besaran ke jantung pemerintahan Venezuela. Dalam operasi kilat tersebut, pasukan AS berhasil menangkap:
- Nicolás Maduro (Presiden Venezuela)
- Cilia Flores (Ibu Negara)
Langkah drastis Washington ini langsung memicu gelombang protes dari berbagai belahan dunia, terutama dari sekutu dekat Venezuela.
Reaksi Keras Rusia dan China: “Pelanggaran Piagam PBB”
Moskow dan Beijing tidak tinggal diam melihat jatuhnya rezim Maduro melalui intervensi militer asing. Berikut adalah poin utama kecaman mereka:
-
- China: Melalui Kementerian Luar Negeri, Beijing menyatakan “sangat terkejut”. China menegaskan bahwa serangan AS adalah bentuk nyata dari perilaku hegemonik yang melanggar Piagam PBB dan prinsip dasar kedaulatan negara.
- Rusia: Moskow menyebut situasi ini “sangat mengkhawatirkan”. Rusia menyerukan penghentian eskalasi dan mendesak penyelesaian melalui jalur diplomatik daripada kekuatan militer yang destruktif.
”Ini adalah simbol aksi koboi modern yang mengabaikan hukum internasional dan berpotensi menghancurkan stabilitas kawasan Amerika Latin,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Dunia Internasional Terbelah
Bukan hanya Rusia dan China, Uni Eropa juga menyoroti adanya pelanggaran hukum internasional dalam operasi ini. Meski begitu, peta dukungan dunia masih terbelah, di mana sejumlah negara sekutu AS justru menyambut baik langkah Washington untuk menyingkirkan rezim Maduro.
Kini, Venezuela kembali menjadi episentrum persaingan geopolitik global. Dunia menunggu apakah langkah “koboi” AS ini akan memicu konflik yang lebih luas atau justru menjadi titik balik baru bagi politik di Amerika Selatan. ( *01 )
Baca Juga :







