Trump Klaim Militer AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro Saat Serangan Besar ke Caracas

Jakarta,Kabarins.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa militer AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026), bertepatan dengan serangan militer berskala besar Amerika Serikat ke wilayah Venezuela.
Klaim tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social. Ia menyebut operasi

Baca Juga :

banner 728x90

Gaya Hidup Sehat 2026: Intip Tren Olahraga Paling Hits dari Padel, Tenis, hingga Komunitas Lari

penangkapan dilakukan bersama aparat penegak hukum Amerika Serikat, namun tidak merinci lokasi maupun mekanisme penangkapan tersebut.
“Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS. Detail lebih lanjut akan menyusul. Akan ada konferensi pers hari ini pukul 11 pagi di Mar-a-Lago,” tulis Trump.
Mar-a-Lago merupakan resor milik Trump yang terletak di Florida, Amerika Serikat.
Hingga kini, Trump belum memberikan keterangan resmi terkait keberadaan Nicolas Maduro maupun Cilia Flores setelah diklaim ditangkap. Pemerintah Venezuela juga belum mengonfirmasi kebenaran klaim tersebut.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan bahwa pemerintahannya tidak mengetahui keberadaan Presiden Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Ia menuntut pemerintah AS segera memberikan bukti keberadaan keduanya.
Menurut laporan CBS News, penangkapan Maduro diduga dilakukan oleh Delta Force, unit kontraterorisme elite Angkatan Darat Amerika Serikat. Informasi tersebut diperoleh CBS dari seorang pejabat AS, meski belum ada pernyataan resmi dari Pentagon.
Beberapa jam sebelum klaim penangkapan itu, Trump memerintahkan militer AS melancarkan serangan ke Venezuela, dengan sasaran utama fasilitas-fasilitas militer.
Di ibu kota Venezuela, Caracas, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi hampir bersamaan di berbagai lokasi, termasuk di sekitar instalasi militer. Asap tebal terlihat mengepul di langit kota, sementara beberapa kawasan mengalami pemadaman listrik.
Terdapat pula laporan yang belum dikonfirmasi mengenai aktivitas pesawat militer yang terbang di atas Caracas pascaserangan.
Pemerintah Venezuela kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras serangan militer Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara.
Seorang jurnalis yang tinggal di Caracas, Vanessa Silva, mengaku melihat langsung ledakan dari jendela rumahnya. Ia menyebut suara ledakan sangat kuat, bahkan lebih keras dari halilintar, hingga membuat bangunan bergetar.
“Sekarang Caracas terlihat sunyi, tapi orang-orang panik dan saling mengirim pesan untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja,” ujarnya.
Amerika Serikat selama bertahun-tahun menuduh Nicolas Maduro memimpin jaringan perdagangan narkotika internasional. Tuduhan tersebut selalu dibantah oleh Maduro dan hingga kini tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat secara internasional. ( *01 )

banner 728x90