Konsensus Pasar: Ekonomi RI 2025 Tumbuh 5,05%, Kredit Korporasi Salip Konsumsi Warga

Ekonomi Indonesia tumbuh 5.04% unggul dari Singapura dan China diolah dari berbagai sumber
Ekonomi Indonesia tumbuh 5.04% unggul dari Singapura dan China diolah dari berbagai sumber

Jakarta, Kabarins.com – Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 pada esok hari, Kamis (5/2/2026). Menjelang pengumuman krusial tersebut, konsensus pasar menunjukkan optimisme yang terukur. Median proyeksi dari 30 analis dan ekonom yang dihimpun Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 akan berada di angka 5,05%. Angka ini mengindikasikan adanya akselerasi tipis di penghujung tahun, di mana pertumbuhan kuartal IV diproyeksikan mencapai 5,1% secara tahunan (year-on-year), sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal III-2025 yang tumbuh 5,04%.

Tamara Handerson, Ekonom Bloomberg, dalam catatannya memprediksi pertumbuhan kuartal terakhir tahun lalu bahkan bisa menyentuh 5,12%. Pendorong utama optimisme ini adalah bangkitnya konsumsi rumah tangga yang mencerminkan fenomena permintaan tertahan atau pent-up demand, setelah sempat melemah pada beberapa kuartal sebelumnya. Indikator pemulihan ini terlihat nyata dari perbaikan sentimen konsumen, penjualan ritel, hingga peningkatan impor barang konsumsi serta pembelian kendaraan bermotor.

banner 728x90

Baca Juga: Gerindra Berusia 18 Tahun, H. Verry Mulyadi: Ini Bukan Kebetulan, Ini Panggilan Perjuangan

Namun, narasi pertumbuhan ini tidak semata-mata didorong oleh kekuatan organik pasar. Intervensi fiskal pemerintah di akhir tahun terbukti menjadi stimulus yang sangat dominan. Belanja pemerintah pada Desember 2025 tercatat meledak hingga 69,29% menjadi Rp539,60 triliun, melonjak drastis dibandingkan pengeluaran bulan November yang hanya Rp318,80 triliun. Guyuran anggaran ini, yang sebagian besar dialokasikan untuk belanja material dan bantuan sosial, berfungsi efektif sebagai bantalan ekonomi sekaligus upaya penguatan pasar tenaga kerja.

Di sektor investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) diperkirakan menguat seiring dengan pulihnya konsumsi semen dan percepatan impor barang modal yang naik 20,06%. Kinerja industri pengolahan pun masih berada di zona ekspansi. Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) meningkat menjadi 51,86% pada kuartal IV, dengan sub-sektor seperti industri makanan minuman dan barang galian bukan logam mencatat kinerja tertinggi.

Baca Juga: Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi Ditargetkan Tuntas dan Beroperasi Tahun 2031

Meskipun demikian, ada catatan kritis dari sisi intermediasi perbankan. Riset Mega Capital Sekuritas menyoroti bahwa lonjakan pertumbuhan kredit sebesar 9,32% pada Desember lebih bersifat corporate-led atau dipimpin oleh korporasi, bukan rumah tangga. Kredit investasi dan modal kerja masing-masing tumbuh impresif sebesar 20,50% dan 4,42%, sementara kredit konsumsi justru melambat ke level 6,44%. Hal ini mengindikasikan bahwa perputaran roda ekonomi di akhir tahun lalu lebih banyak digerakkan oleh realisasi proyek korporasi ketimbang pemulihan daya beli masyarakat secara luas.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dihimpun oleh Bloomberg
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dihimpun oleh Bloomberg

Secara keseluruhan, fondasi ekonomi Indonesia menutup tahun 2025 dengan likuiditas yang solid. Pertumbuhan uang beredar (M2) yang meningkat ke 9,59% menjadi basis kuat bagi lonjakan kredit di akhir tahun, memberikan modal awal yang cukup stabil untuk menapaki tahun ekonomi 2026. (15)

banner 728x90