Peringatan bagi Profesional: Di Era AI, Pintar Saja Tidak Cukup, Anda Wajib Punya ‘Survival Skill’ Ini

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Kabarins.com – Gelombang Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi bukan lagi sekadar ombak kecil di tepian pantai industri, melainkan kekuatan struktural yang sedang merombak total fondasi dunia kerja global. Di tengah ketidakpastian ini, narasi ketakutan tentang hilangnya pekerjaan mulai digeser oleh pertanyaan yang lebih fundamental: seberapa cepat manusia bisa berubah mengikuti mesin? Bagi Deny Rozalia, VP HR GDP Labs sekaligus Head of HR GDP Venture, jawabannya mengerucut pada satu kata: adaptabilitas.

Dalam analisis terbarunya, Deny tidak lagi menempatkan kemampuan beradaptasi sebagai pelengkap atau soft skill semata. Ia menaikkan statusnya menjadi survival skill—kemampuan bertahan hidup yang mutlak dimiliki oleh organisasi maupun profesional. Argumen ini didukung oleh data World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025, yang memproyeksikan bahwa sekitar 39 persen keterampilan inti yang kita kenal hari ini akan berubah signifikan atau bahkan kedaluwarsa pada tahun 2030.

banner 728x90

Baca Juga: Gerindra Berusia 18 Tahun, H. Verry Mulyadi: Ini Bukan Kebetulan, Ini Panggilan Perjuangan

“Pertanyaannya kini bukan lagi apakah pekerjaan akan berubah, tetapi seberapa cepat organisasi dan tenaga kerja dapat beradaptasi,” ujar Deny. Ia mengingatkan bahwa meski teknologi mendominasi, kompetensi manusiawi seperti kreativitas, rasa ingin tahu, dan ketahanan mental justru menjadi mata uang paling berharga yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma.

Namun, di balik bayang-bayang disrupsi, Indonesia justru dinilai berdiri di titik yang sangat strategis. Dengan menguasai hampir 50 persen populasi Asia Tenggara dan realisasi investasi asing langsung (FDI) tahun 2025 yang menembus Rp900,9 triliun, Indonesia memiliki kombinasi mematikan: pasar raksasa dan talenta muda yang dinamis. Kepercayaan investor global yang tinggi ini menjadi bukti bahwa Indonesia bukan sekadar pasar konsumtif, melainkan pusat gravitasi ekonomi digital kawasan.

Baca Juga: Krisis Air Bersih Di Padang: H. Verry Mulyadi Salurkan Bantuan di Kuranji, Andre Rosiade Beri Apresiasi Khusus

Deny memberikan “pekerjaan rumah” bagi para CEO dan pemimpin SDM. Strategi talenta tak bisa lagi hanya berkutat pada keahlian teknis. Percepatan program reskilling dan upskilling digital adalah keharusan, bukan pilihan opsional. Jika potensi adaptabilitas tenaga kerja muda ini dikelola dengan tepat, Indonesia memiliki seluruh modal untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemimpin transformasi dunia kerja di Asia.

banner 728x90