Jakarta, Kabarins.com – Rapor pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 yang mencapai 5,11 persen ternyata gagal menjadi obat kuat bagi mata uang Garuda. Alih-alih menguat merayakan capaian tersebut, Rupiah justru menutup perdagangan Kamis (5/2/2026) dengan wajah pucat. Nilai tukar Rupiah terdepresiasi 0,33 persen dan terlempar kembali ke atas level psikologis, parkir di posisi Rp16.830 per Dolar AS.
Respons pasar ini seolah mengirim pesan dingin: investor tidak terlalu terkesan. Di atas kertas, angka 5,11 persen memang terlihat solid, apalagi jika dibandingkan dengan mitra dagang seperti China (5%), Singapura (4,8%), atau Korea Selatan yang hanya tumbuh 1 persen. Namun, jika disandingkan dengan Vietnam yang mampu melesat 8 persen—angka yang dicita-citakan Indonesia—capaian ini terasa medioker. Pelaku pasar melihat mesin pertumbuhan Indonesia masih rapuh karena terlalu mengandalkan belanja fiskal populis, bukan produktivitas struktural yang kokoh.
Tekanan terhadap Rupiah tidak berdiri sendiri. Dari sisi eksternal, Dolar AS sedang memamerkan ototnya. Indeks Dolar (DXY) menguat 0,17 persen ke level 97,778, membuat mayoritas mata uang Asia bertekuk lutut, dengan Baht Thailand dan Ringgit Malaysia memimpin pelemahan.

Kekuatan Greenback ini ditopang oleh data ekonomi AS yang solid serta sentimen positif pasar terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai pejabat tinggi The Fed. Sosok Warsh dianggap pro-stabilitas, membuat aset berdenominasi Dolar kembali diburu. Akibatnya, arus modal asing di pasar domestik Indonesia makin deras mengalir keluar.
Baca Juga: Istana Bongkar Pasang Jabatan: Hakim MK Baru Dilantik, Pos Wamenkeu Segera Terisi
Data arus modal memberikan gambaran yang lebih jujur tentang kepercayaan investor. Dalam 12 bulan terakhir, tercatat arus modal asing keluar (capital outflow) dari pasar saham mencapai US$1.501,8 juta, sementara dari pasar surat utang (SBN) sebesar US$201,8 juta. Aksi jual masif ini menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hari ini juga ditutup lesu, susut 0,53 persen ke level 8.301.

Laporan Bloomberg Economics menyoroti bahwa investor mulai skeptis dengan strategi ekonomi Prabowo yang dinilai terlalu fokus pada perluasan perlindungan sosial dan subsidi, alih-alih melanjutkan reformasi struktural yang agresif. “Memulihkan kepercayaan pasar adalah prasyarat mutlak jika ingin keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen,” tulis laporan tersebut.
Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, menambahkan bahwa ekonomi Indonesia tahun ini menghadapi ancaman ganda. Dari luar, permintaan global—terutama China—melemah. Dari dalam, daya beli kelas menengah yang tertekan membuat konsumsi tidak merata. Ditambah lagi, iklim investasi masih dihantui masalah klasik: perizinan yang rumit dan ketidakpastian hukum. Tanpa perbaikan fundamental, Rupiah dan ekonomi RI berisiko terus terjebak dalam mediokritas, tumbuh tapi rapuh. (15)







