Jakarta, Kabarins.com – Dinamika jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 diprediksi berlangsung panas. Namun, kontestasi juga berpotensi mengerucut menjadi satu pasangan calon tunggal jika koalisi besar antar kekuatan dominan berhasil terbentuk.
Tokoh muda NU, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menyebut bahwa berdasarkan dinamika di lapangan, terdapat sekitar 400 suara yang berpotensi terkonsolidasi ke satu kubu.
Menurutnya, jika jejaring Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII yang menguasai sekitar 250 suara mampu berkoalisi dengan kekuatan Kementerian Agama yang memiliki sekitar 130 suara, maka total dukungan bisa mencapai angka signifikan.
“Jika koalisi strategis ini terwujud, maka potensi suara yang terkumpul bisa mencapai sekitar 400 suara,” ujar Gus Lilur kepada wartawan, Jumat (1/5/2026).
Jumlah tersebut dinilai sangat menentukan, bahkan berpotensi membuat kontestasi Muktamar ke-35 NU didominasi satu pasangan calon tanpa perlawanan berarti dari poros lain.
Baca Juga:Prabowo Dorong Keadilan bagi Ojol, Minta Potongan Aplikator Ditekan di Bawah 10 Persen
Saat ini, terdapat enam poros utama yang aktif bergerak dalam peta politik internal NU:
Poros pertama dipimpin Ketua Umum petahana Yahya Cholil Staquf yang tengah mencari pasangan Rais Aam untuk memperkuat legitimasi kepemimpinannya.
Poros kedua melibatkan Rais Aam petahana Miftachul Akhyar bersama Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf, yang juga tengah menjajaki figur kuat untuk calon Ketua Umum.
Poros ketiga menghadirkan Menteri Agama Nazaruddin Umar yang disebut didukung kekuatan pemerintah dan tengah mencari pasangan untuk posisi Rais Aam.
Poros keempat merupakan kekuatan besar dari jaringan PKB dan IKA PMII dengan estimasi sekitar 250 suara. Untuk posisi Rais Aam, nama Said Aqil Siradj disebut menguat sebagai kandidat utama.
Poros kelima berasal dari jejaring PWNU Jawa Timur yang mendorong Abdul Hakim Mahfuz, yang hingga kini masih mencari pasangan Rais Aam.
Poros keenam menghadirkan Marzuki Mustamar yang telah menyatakan dukungan terbuka kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.
Gus Lilur memperkirakan jaringan Ketua Umum petahana hanya menguasai sekitar 100 suara atau sekitar 20 persen. Sementara itu, Rais Aam petahana bersama Sekjen juga memiliki basis kekuatan yang relatif setara.
Di luar itu, masih terdapat sekitar 70 hingga 80 suara mengambang yang berpotensi menjadi penentu jika koalisi besar tidak terbentuk.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dinamika politik internal NU sangat kompleks dan tidak mudah diprediksi. Kepentingan masing-masing poros serta ambisi untuk menduduki posisi Ketua Umum dan Rais Aam menjadi faktor utama yang dapat menghambat terbentuknya koalisi besar.
“Muktamar ke-35 tetap menyisakan banyak kemungkinan, termasuk munculnya poros tandingan yang dapat mengubah peta kekuatan secara drastis di saat-saat akhir,” pungkasnya.
Baca Juga:Momentum Bangkit Bersama! Jalan Santai PGRI Satukan Ribuan Guru Pasaman di Hardiknas 2026





