Presiden Prabowo Kucurkan Dana Penanganan Permanen Rehab Rekon, Verry Mulyadi : Butuh Sinergi Semua Pihak Agar Berjalan Sukses

Avatar photo

Padang, Kabarisn.com – Hujan deras dengan intensitas tinggi sering melanda Kota Padang dalam kurun waktu bulan Mei hingga Oktober. Masyarakat Kota Padang yang berada di bantaran Sungai Batang Kuranji dan Batang Lubuk Minturun senantiasa waspada galodo menerjang rumah mereka.

Dari data yang dihimpun media, hujan dengan intensitas tinggi disertai derasnya aliran sungai yang membawa material kayu dan batu besar di dua aliran sungai tersebut terjadi beberapa kali.

Tercatat kejadian dimaksud terjadi pada 19 Juli yang membuat aliran Sungai Lubuk Minturun menggila. Kemudian 3 Agustus aliran Batang Lubuk Minturun mengamuk yang menyebabkan ratusan rumah terendam.

Selanjutnya hujan deras disertai debit air tinggi di Lubuk Minturun pada 15 Agustus bahkan membuat Kapal Mentawai Fast terdampar, serta terakhir 10 Oktober yang juga merendam rumah warga di Perumahan Lumin Park.

Anggota DPRD Sumbar Verry Mulyadi menyebut, pekerjaan tanggap darurat yang dilakukan Ditjen SDA Balai Wilayah Sungai Sumatera V di Sungai Batang Kuranji maupun di Lubuk Minturun cukup efektif meredam aliran sungai.

Tingginya intensitas curah hujan di wilayah hulu Sungai Batang Air Dingin dan Batang Kuranji dalam beberapa bulan terakhir mengakibatkan meningkatnya debit dan kecepatan arus sungai. Kondisi tersebut memicu terjadinya penggerusan alami pada dasar sungai yang berdampak terhadap posisi batu bronjong.

Baca Juga:KNPI Fest 2026 Pasaman Berjalan Sukses, Malam Puncak Dimeriahkan Stand Up Comedy dan DPlust

“Jangankan tanggul di tebing sungai, batu besar dengan berat berton-ton saja di dalam sungai itu juga dihanyutkan aliran sungai. Begitu besar arus sungai disana,” kata Verry

Verry juga menjelaskan bahwa pekerjaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi pada November 2025 tersebut ditujukan sebagai penyelamatan sementara untuk menahan gerusan sungai dan melindungi fasilitas umum serta permukiman warga dari kerusakan yang lebih luas, bukan sebagai infrastruktur permanen.

Pekerjaan tanggap darurat berbeda dengan pembangunan infrastruktur permanen. Konstruksi yang dibangun bersifat sementara dan difungsikan sebagai upaya preventif untuk mengurangi dampak kerusakan akibat bencana.

“Banyak faktor yang membuat arus air bisa terbentuk sebesar itu, termasuk juga mungkin di hulu sungai tidak ada lagi tempat resapan air yang memadai,” ungkapnya.

Sebagai kader Partai Gerindra, pihaknya bersyukur Presiden Prabowo Subianto turun tangan membantu mengucurkan anggaran Triliunan Rupiah untuk Kota Padang guna penanganan permanen sungai di Batang Kuranji dan Lubuk Minturun yang akan dilaksanakan pada akhir tahun 2026 ini.

Tentunya Ia juga berharap setelah tanggap darurat, BWS Sumatera V segera menjalankan pekerjaan rehab rekon. Serta yang terpenting mengangkat sedimen yang menyebabkan kedangkalan sungai. Sangat diperlukan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah Kota Padang,Pemerintahan Provinsi melalui leading sektor masing-masing seperti Dinas PUPR Kota Padang hingga Dinas ESDM Provinsi Sumatera Barat dan Forkompinda serta masyarakat agar pekerjaan ini bisa terlaksana dengan baik

“Penanganan permanen sangat diperlukan. Agar kedepan galodo di Batang Kuranji dan Lubuk Minturun tidak lagi merusak fasilitas umum, rumah masyarakat dan trauma pisikologis yang saat ini dialami masyarakat yang tinggal dibantaran sungai yang rentan bencana, Terimakasih kepada Bapak Presiden kita yang sudah mengucurkan anggaran untuk Kota Padang dalam rehab rekon tahun ini,” pungkasnya (02)