FESTIVAL ALUA PASAMBAHAN, GAUNGKAN PELESTARIAN, MERAWAT ADAT MINANGKABAU

Avatar photo
MENJAGA: Sejumlah kelompok peserta menampilkan alua pasambahan dalam Festival Alua Pasambahan di Nagari Tanjuang Baringin, Minggu (4/10).

Pasaman, Kabarins.com — Pelestarian adat dan budaya Minangkabau membutuhkan ruang agar tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi penerus. Semangat itulah yang diangkat dalam Festival Alua Pasambahan di Nagari Tanjuang Baringin, Minggu (4/10). Mengusung tema “Merawat Adat, Melestarikan Budaya”, kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah kelompok peserta yang menampilkan tradisi alua pasambahan.

Festival yang dimulai pukul 08.00 WIB itu berlangsung semarak. Masing-masing kelompok peserta mendapat kesempatan menampilkan alua pasambahan sebagai bagian dari tradisi adat Minangkabau. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali tradisi yang memiliki tempat dalam tata kehidupan adat.

Ketua Pelaksana Festival Alua Pasambahan, Zulfetra, mengatakan pelaksanaan festival diarahkan untuk menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Festival ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi salah satu upaya kita untuk merawat adat dan melestarikan budaya Minangkabau. Tradisi alua pasambahan perlu terus diperkenalkan agar generasi muda mengenal dan memahami nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para pendahulu,” demikian draf pernyataan yang dapat disesuaikan dengan keterangan Zulfetra.

Menurutnya, keterlibatan kelompok peserta menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Melalui penampilan masing-masing kelompok, tradisi alua pasambahan mendapat ruang untuk terus ditampilkan dan dikenal di tengah masyarakat.

Festival tersebut dibuka secara resmi oleh Donizar, anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dalam kesempatan itu, Donizar juga menyampaikan sambutan terkait pelaksanaan kegiatan kebudayaan tersebut.

“Adat dan budaya merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Minangkabau. Karena itu, tradisi seperti alua pasambahan perlu terus dijaga dan dilestarikan. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal nama tradisinya, tetapi tidak memahami makna dan pelaksanaannya,” demikian draf pernyataan yang dapat disesuaikan dengan keterangan Donizar.

Ia juga dapat menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Pelestarian budaya, dalam konteks kegiatan tersebut, diwujudkan melalui ruang pertunjukan yang melibatkan kelompok-kelompok peserta.

Usai pembukaan, festival dilanjutkan dengan penampilan alua pasambahan dari masing-masing kelompok. Para peserta tampil mengikuti rangkaian acara, sementara suasana kegiatan berlangsung meriah dengan antusiasme kelompok yang ambil bagian.

Melalui Festival Alua Pasambahan, Nagari Tanjuang Baringin mengangkat kembali pentingnya menjaga tradisi adat sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau. Tema “Merawat Adat, Melestarikan Budaya” menjadi landasan kegiatan yang menempatkan pelestarian tradisi sebagai perhatian utama.(02)