Jakarta, Kabarins.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil lolos dari tekanan jual masif pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026. Setelah sempat terperosok ke zona merah dengan penurunan hingga 0,60 persen pada sesi pertama, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini sukses melakukan manuver pembalikan arah (rebound) jelang penutupan. IHSG akhirnya parkir tipis di teritori positif dengan penguatan 0,05 persen ke level 8.980, di tengah nilai transaksi harian yang melonjak tajam mencapai Rp27,44 triliun.
Perdagangan hari ini diwarnai oleh pertarungan sengit antara aksi beli pada saham-saham berbasis komoditas dan perbankan melawan tekanan jual hebat di sektor industri. Di garda terdepan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi magnet likuiditas utama. Saham “sejuta umat” ini memuncaki daftar transaksi teraktif dengan nilai putaran uang mencapai Rp1,96 triliun dan volume 5,7 miliar saham, menutup hari di level Rp344. Mengekor di belakangnya, raksasa perbankan swasta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan emiten tambang pelat merah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut menjadi pilar penyangga indeks dengan nilai transaksi masing-masing Rp1,95 triliun dan Rp1,04 triliun.
Baca Juga: 45 Menit Bersama Zidane: Saat Prabowo Bicara Sepak Bola di Sela Urusan Negara
Namun, kemenangan tipis IHSG ini menyisakan catatan kelam bagi sektor industri yang mengalami kontraksi dalam sebesar 3,45 persen. Penurunan ini dipicu oleh aksi jual agresif pada saham konglomerasi otomotif PT Astra International Tbk (ASII) yang anjlok 8,36 persen ke level Rp6.300. Sentimen negatif di sektor ini juga menyeret anak usahanya, PT United Tractors Tbk (UNTR), yang tergelincir 5,87 persen. Jatuhnya saham-saham Grup Astra ini menjadi pemberat utama yang membuat IHSG gagal terbang tinggi mengikuti tren regional.
Padahal, jika melihat lanskap pasar Asia, mayoritas bursa utama sedang berpesta pora. Indeks Hang Seng Hong Kong, Nikkei Jepang, dan Straits Times Singapura kompak mencatatkan kenaikan signifikan di atas 1 persen. Ketinggalannya IHSG dari reli regional ini mengindikasikan adanya faktor domestik—khususnya rotasi sektor yang ekstrem—yang membuat investor menahan diri untuk melakukan akumulasi lebih agresif secara merata.
Di deretan saham lapis kedua dan teknologi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali unjuk gigi dengan kenaikan 8,33 persen ke level Rp65, menjadi salah satu top gainers yang menarik perhatian ritel. Sementara itu, sektor energi menyajikan dua wajah berbeda; di saat ENRG dan DEWA melesat, PT Indika Energy Tbk (INDY) justru terpuruk di dasar klasemen top losers dengan penurunan nyaris 12 persen, mencerminkan volatilitas tinggi yang masih membayangi sektor energi di awal tahun 2026 ini. (15)







