PADANG, Kabarins.com — Ancaman galodo, tanah longsor, dan gempa bumi yang terus membayangi Sumatera Barat menuntut kesiapan personel penyelamat yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga menguasai teknik penanganan darurat. Menjawab tantangan tersebut, Pengurus Daerah Indonesia Off-road Federation (Pengda IOF) Sumbar mulai memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan penyelamatan tingkat nasional.
Di bawah kepemimpinan Verry Mulyadi, S.H., Pengda IOF Sumbar mengutus dua personel, Ibra Ismail dan Ardeni Paloh, mengikuti Disaster Rescue Volunteer Training III di Bali. Keduanya diharapkan menjadi bagian dari penguatan tim penyelamat IOF Sumbar, terutama dalam menghadapi kondisi darurat di wilayah yang sulit dijangkau.
Pelatihan tersebut berlangsung selama empat hari, 29 Oktober hingga 1 November 2025. Kegiatan dipusatkan di Fave Hotel Kartika Plaza, Kuta, serta Tarmstar Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.
Pengiriman dua personel ini bukan sekadar untuk menambah pengalaman anggota. IOF Sumbar juga menyiapkan kader yang nantinya dapat mentransfer pengetahuan dan keterampilan penyelamatan kepada anggota lain, termasuk melalui pelatihan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar.
Ketua Pengda IOF Sumbar, Verry Mulyadi, mengatakan, peningkatan kemampuan relawan menjadi kebutuhan penting mengingat karakteristik geografis Sumbar yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
“Sumatera Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan potensi kerawanan bencana yang cukup tinggi. Sebagai Sekretaris Komisi IV DPRD Sumbar yang bermitra langsung dengan BPBD, saya melihat betapa krusialnya kesiapsiagaan fisik, mental, dan keahlian teknis para relawan di lapangan,” ujar Verry.
Menurut dia, keberadaan anggota IOF memiliki potensi strategis dalam mendukung operasi kemanusiaan. Pengalaman berkendara di medan ekstrem serta ketersediaan kendaraan berpenggerak empat roda menjadi salah satu kekuatan untuk menjangkau kawasan yang terisolasi akibat bencana.
Dalam sejumlah kejadian bencana, akses jalan menuju lokasi terdampak kerap terputus akibat longsor, banjir, maupun kerusakan infrastruktur. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan personel dan kendaraan yang mampu melewati medan berat untuk membantu proses evakuasi serta distribusi bantuan.
Karena itu, Verry menegaskan, IOF tidak boleh hanya dipandang sebagai organisasi otomotif yang mewadahi kegiatan olahraga dan hobi off-road. Lebih dari itu, organisasi tersebut harus mampu mengambil peran dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, khususnya ketika bencana terjadi.
“Pengiriman saudara Ibra Ismail dan Ardeni Paloh ke Bali adalah bagian dari investasi SDM IOF Sumbar. Harapan saya, sepulang dari pelatihan ini mereka dapat mengaplikasikan ilmunya di Sumatera Barat,” tegasnya.
Disiapkan Jadi Asisten Instruktur
Materi yang diberikan dalam Disaster Rescue Volunteer Training III mencakup sejumlah keterampilan penting dalam penanggulangan bencana. Di antaranya teknik evakuasi pada medan sulit, vertical rescue, off-road rescue, tata kelola posko bencana, pertolongan pertama pada kondisi darurat (P3K), serta sistem navigasi dan komunikasi di kawasan bencana.
Keterampilan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan personel IOF ketika terlibat dalam operasi penyelamatan, terutama pada fase tanggap darurat. Penguasaan navigasi dan komunikasi, misalnya, menjadi bagian penting ketika relawan harus bergerak di kawasan dengan akses terbatas dan jaringan komunikasi terganggu.
Tidak hanya mengharapkan penerapan ilmu di lapangan, Verry juga menyiapkan langkah lanjutan melalui kaderisasi instruktur lokal. Ibra Ismail dan Ardeni Paloh diproyeksikan menjadi asisten instruktur dalam pelatihan penyelamatan yang digelar secara internal oleh Pengda IOF Sumbar maupun melalui kolaborasi dengan BPBD Sumbar.
“Sekaligus menjadi Asisten Instruktur saat kita berkolaborasi menggelar pelatihan rescue bersama BPBD maupun internal IOF nanti,” ungkap Verry.
Posisi Verry sebagai Ketua Pengda IOF Sumbar sekaligus Sekretaris Komisi IV DPRD Sumbar menjadi salah satu ruang untuk mendorong koordinasi antara komunitas relawan dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut diarahkan agar potensi personel dan peralatan yang dimiliki IOF dapat mendukung upaya mitigasi serta penanganan bencana di Sumbar.
Melalui penguatan kapasitas personel dan rencana kaderisasi tersebut, IOF Sumbar menargetkan terbentuknya relawan yang memiliki kemampuan teknis penyelamatan sekaligus siap diterjunkan ketika terjadi bencana. Dengan demikian, keterlibatan komunitas off-road diharapkan semakin terarah dalam mendukung kerja-kerja kemanusiaan bersama BPBD dan unsur terkait lainnya.(02)





