Mulai 2026 Ibu Ibu Masak Pakai Ini,Good Bye LPG 3 Kg

SP/Ruht Seniono Penggunaan LPG Diprediksi Meningkat - Pekerja mengangkut tabung gas elpiji 3 kg di Tangerang Selatan, Banten, Junat (8/5/2020). Pertamina memprediksi kebutuhan LPG pada Ramadhan ini meningkat sekitar 6 persen akibat adanya peningkatan permintaan selama Ramadhan sekaligus menyesuaikan kebijakan PSBB yang diperpanjang dan meluas di berbagai wilayah di Indonesia sehingga akan lebih banyak aktivitas memasak di rumah. 

Kabarins.com – Indonesia punya rencana untuk mengganti liquefied petroleum gas (LPG) dengan gas dimetil ether (DME) yang diolah dari batu bara. PT Bukit Asam Tbk atau PTBA menjadi salah satu pihak yang mendapat penugasan untuk melakukan hal tersebut.

PTBA diminta untuk membangun fasilitas pemurnian DME. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail mengatakan pada 2026 rencananya fasilitas pemurnian itu selesai digarap.

banner 728x90

Menurutnya, sampai saat ini fasilitas hilirisasi batu bara jadi DME masih dalam tahap administratif dan pengujian setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Januari 2022 lalu.

Nah kemungkinan, progres fisik baru bisa dilakukan tahun depan. Kemudian pada 2026 ditargetkan DME bisa diproduksi dan menjadi pengganti LPG.

“Kalau sesuai timeline kita, kan pembangunan kurang lebih tiga tahun, kalau tahun depan sudah mulai diharapkan 2026 sudah hasilkan produk DME itu,” sebut Arsal di Hotel Raffles, Jakarta Selatan.

Arsal bilang DME bakal jadi substitusi yang tepat buat LPG. Ujungnya, pemerintah bisa mengurangi impor gas untuk LPG.

“Nantinya kita akan utilize 6 juta ton (batu bara) per tahun, dan diharapkan hasilkan 1,4 juta DME per tahun dan bisa kurangi impor LPG 1 juta ton per tahun,” papar Arsal.

Fasilitas hilirisasi batu bara menjadi DME dibangun di Kawasan Industri Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan. PTBA menggarap proyek itu bekerja sama dengan Pertamina dan juga perusahaan Amerika Serikat (AS) Air Products and Chemicals Inc.

Arsal bilang meski sudah di-groundbreaking oleh Presiden Jokowi, saat ini pihaknya masih menunggu Peraturan Presiden atau Perpres untuk menjadikan kawasan Muara Enim menjadi sebuah kawasan ekonomi khusus alias KEK.

Di samping itu, pihak Air Products pun sudah melakukan studi geotech dan juga penelitian soal kandungan batu bara di Muara Enim.

“Sementara itu, di lapangan masih jalan juga kami melakukan pengujian coal sampling. Teman-teman Air Products lakukan geotech. Dia melakukan penelitian soal lahan di sana. Mudah-mudahan berjalan baik,” ungkap Arsal.

Coal sampling tadi dilakukan agar spesifikasi tidak ada perbedaan jauh juga lagi berjalan. Sambil tunggu proses administrasi di keppresnya,” lanjutnya.

Perkiraannya, tahun depan kegiatan fisik fasilitas DME bakal digarap. “Kita harapkan simultan schedule, tahun depan kegiatan fisiknya,” kata Arsal.

Adu Murah sama LPG

Menteri ESDM Arifin Tasrif pun pernah membandingkan kedua jenis produk energi tersebut, apa hasilnya? Menurut Arifin DME lebih hemat ketimbang LPG. Alasannya, pembakaran DME lebih efisien daripada LPG, sehingga lebih sedikit sisa-sisa fraksi karbon yang terbuang.

“Mengenai efisiensi DME dengan LPG, efisiensi pembakaran DME lebih baik daripada LPG. Dalam percobaan yang dilakukan, fraksi karbon beratnya LPG masih tertinggal di botol, kalau DME bisa dimaksimalkan,” kata Arifin dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR.

Dari sisi proses produksinya pun menurut Arifin, DME lebih mudah dan murah. Pasalnya, proses produksi DME dilakukan langsung di tambang tak perlu ada ongkos angkut batu bara ke tempat lain.

“Ini dilakukan di lokasi mulut tambang. Tak perlu angkut sejumlah sekian juta ton, jadi yang disiapkan berupa produk processing aja,” terang Arifin.(pp)

banner 728x90