Jakarta, Kabarins.com – Pasar komoditas dunia hari ini terbangun dalam euforia yang nyaris tak masuk akal. Logam mulia emas, yang selama ini menjadi pelabuhan aman kala badai ekonomi, kini justru tampil beringas memecahkan segala batasan psikologis. Pada perdagangan Kamis pagi, 29 Januari 2026, harga emas di pasar spot melesat liar menembus angka keramat US$5.505,5 per troy ons. Kenaikan 1,58 persen di pagi buta ini melanjutkan reli gila-gilaan sehari sebelumnya yang sudah melonjak hampir 5 persen, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah peradaban manusia.
Ledakan harga ini bukan tanpa pemicu. Di balik kilau emas yang makin menyilaukan, pasar sedang merespons drama besar di tubuh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Keputusan FOMC dini hari tadi untuk menahan suku bunga di level 3,5-3,75 persen hanyalah hidangan pembuka. Hidangan utamanya adalah spekulasi liar mengenai nasib Jerome ‘Jay’ Powell. Pasar kini bertaruh bahwa masa jabatan Powell sebagai Gubernur The Fed tinggal menghitung hari, dan penggantinya diprediksi adalah sosok yang jauh lebih dovish—sebutan bagi bankir sentral yang pro pada pelonggaran uang dan suku bunga rendah.
Narasi “Ganti Nakhoda” inilah yang menjadi bensin utama pembakaran harga emas. Bart Melek, pakar strategi komoditas dari TD Securities, menyebut bahwa pelaku pasar sudah melupakan Powell dan mulai memosisikan uang mereka untuk era baru yang lebih lunak. Logikanya sederhana namun mematikan bagi Dolar AS: jika pengganti Powell nanti gemar memangkas bunga, maka memegang emas—aset yang tidak memberikan bunga (non-yielding)—menjadi jauh lebih seksi dan menguntungkan dibandingkan obligasi atau deposito dolar.
Lantas, apakah ini saatnya mengeruk untung dengan menjual, atau justru momentum untuk menambah muatan? Suki Cooper dari Standard Chartered Plc memberikan pandangan yang lebih dingin di tengah panasnya pasar. Menurutnya, dalam jangka pendek, risiko koreksi harga sangat terbuka lebar mengingat kenaikan yang terlalu vertikal dalam dua hari terakhir. Namun, ia melihat tren jangka panjang masih sangat positif. Kombinasi antara The Fed yang lebih lunak dan ketegangan geopolitik global yang tak kunjung reda akan terus mendorong investor, terutama ritel, untuk mengalihkan asetnya ke emas. Jadi, koreksi sesaat mungkin justru menjadi peluang masuk bagi mereka yang tertinggal kereta, karena pesta emas tampaknya belum akan bubar dalam waktu dekat. (15)







