Jakarta, Kabarins.com – Bursa saham Indonesia baru saja melewati salah satu hari paling mencekam dalam sejarahnya pada Kamis, 29 Januari 2026. Pelaku pasar dipaksa menaiki rollercoaster emosi yang ekstrem ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjun bebas hingga menyentuh level 7.481,98. Penurunan yang mencapai 10 persen pada sesi perdagangan pertama tersebut bahkan memicu mekanisme trading halt—penghentian perdagangan sementara—selama 30 menit untuk mendinginkan kepanikan pasar. Namun, di ujung hari, indeks berhasil melakukan manuver pemulihan yang dramatis meski tetap harus ditutup di zona merah.
IHSG mengakhiri perdagangan dengan koreksi 1,06 persen di level 8.232,2. Meski minus, posisi penutupan ini terasa seperti sebuah kemenangan kecil jika dibandingkan dengan jurang kehancuran yang sempat diinjak pada sesi pagi. Pemicu utama aksi jual masif (panic selling) ini teridentifikasi berasal dari rumor yang sangat sensitif: potensi penurunan peringkat (downgrade) pasar saham Indonesia oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Isu “turun kasta” ini, ditambah dengan langkah beberapa institusi asing yang menurunkan peringkat aset Indonesia, sukses membuat investor institusional membuang portofolio mereka secara brutal. Nilai transaksi yang tercatat hari ini mencapai angka fantastis Rp68,17 triliun, menandakan terjadinya “perang besar” antara kubu yang panik menjual dan mereka yang melihat peluang harga murah.
Pahlawan kesiangan yang menyelamatkan wajah bursa Indonesia dari kejatuhan lebih dalam adalah saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo (big caps). Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tampil sebagai benteng pertahanan utama dengan menyumbang 29,97 poin terhadap indeks, disusul oleh Bank Central Asia (BBCA) dan emiten energi terbarukan Barito Renewables Energy (BREN). Pembelian masif pada saham-saham penggerak indeks ini di sesi akhir perdagangan mengindikasikan adanya aksi bargain hunting atau perburuan saham diskon oleh investor kakap yang memanfaatkan kepanikan ritel. Astra International (ASII) dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) juga turut ambil bagian dalam operasi penyelamatan ini, membantu indeks merangkak naik kembali ke atas level psikologis 8.000.
Di sisi lain, kerusakan pasar tetap terlihat nyata dengan 521 saham yang berakhir di zona merah, jauh melampaui 214 saham yang menguat. Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Bumi Resources (BUMI) menjadi pemberat utama yang menahan laju pemulihan indeks. Secara teknikal, analis dari Phintraco Sekuritas dan Panin Sekuritas sepakat bahwa IHSG telah menunjukkan technical rebound yang krusial setelah menyentuh titik jenuh jual (oversold). Kemampuan indeks untuk bertahan di atas level 8.000 membuka peluang konsolidasi di rentang 8.200-8.400. Namun, bayang-bayang momentum bearish masih sangat kuat. Jika isu struktural terkait status MSCI tidak segera mendapat kejelasan, lantai bursa Jakarta masih sangat rentan untuk kembali menguji level terendahnya di kisaran 7.500 dalam waktu dekat.
Baca Juga: Gila! Emas Tembus US$5.500 Hari Ini, Spekulasi Lengsernya Powell Bikin Pasar Panik Beli







