Metro  

Melihat dari Dekat Rumah Singgah Sahabat Donizar, Menampung Lelah, Merawat Harapan Warga dari Daerah

Avatar photo
TEMPAT PULANG: Rumah Singgah Sahabat Donizar di Padang menjadi tempat persinggahan warga dari Pasaman dan Pasaman Barat yang membutuhkan tempat menginap sementara untuk berobat, mengurus pendidikan, mengikuti seleksi Polri-TNI hingga kegiatan olahraga.

Padang, Kabarins.com – Jauh dari kampung halaman, perjalanan ke Kota Padang tidak selalu membawa kegembiraan. Bagi keluarga yang mengantar orang tercinta berobat, ada kecemasan menanti kabar dari rumah sakit. Bagi anak-anak muda yang mengikuti seleksi TNI-Polri atau mengejar pendidikan, ada harapan besar yang dipertaruhkan. Sementara bagi para atlet yang datang bertanding, ada nama daerah yang harus diperjuangkan.

Di tengah berbagai urusan itu, ada persoalan yang kerap luput dari perhatian: tempat beristirahat ketika uang terbatas dan tak memiliki keluarga untuk ditumpangi.

Menyewa penginapan membutuhkan biaya. Membeli makanan setiap hari menambah pengeluaran. Padahal, bagi sebagian warga dari Pasaman dan Pasaman Barat, ongkos perjalanan menuju ibu kota provinsi saja sudah cukup menguras kantong.

Di tengah situasi itulah Rumah Singgah Sahabat Donizar hadir. Rumah yang dirintis Donizar, anggota DPRD Sumatera Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dari Dapil IV (Pasaman dan Pasaman Barat) tersebut menjadi tempat persinggahan bagi warga yang membutuhkan selama berada di Padang.

Bukan hotel dengan tarif harian, rumah ini menawarkan sesuatu yang lebih mendasar bagi mereka yang sedang berjuang menyelesaikan urusan di perantauan, tempat berteduh, ruang beristirahat, dan kesempatan menghemat pengeluaran.

Bagi keluarga yang mendampingi pasien, keberadaan tempat singgah bukan sekadar soal mendapatkan kamar untuk tidur. Ada tenaga yang perlu dipulihkan, makanan yang harus disiapkan, dan biaya yang mesti dijaga agar pengobatan orang tercinta tetap menjadi prioritas.

Di rumah itu, perjalanan yang melelahkan mendapat jeda. Warga bisa beristirahat, memasak, lalu kembali menjalani urusan yang membawa mereka meninggalkan kampung halaman.

Berawal dari Kesulitan Warga

Rumah Singgah Sahabat Donizar mulai dirintis pada 2018, jauh sebelum Donizar menjadi anggota DPRD Sumbar. Gagasan pendiriannya berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, tidak semua warga dari daerah memiliki tempat menginap ketika datang ke Padang, terlebih mereka yang harus menghemat biaya.

Saat berdiskusi dengan awak media, Donizar menyebut rumah singgah tersebut telah melayani lebih dari 3.000 kunjungan warga Pasaman dan Pasaman Barat.

Angka itu merupakan jumlah kunjungan yang disampaikan Donizar pada 2023, bukan jumlah orang berbeda yang telah menggunakan fasilitas tersebut. Ada warga yang datang sekadar beristirahat dan berganti pakaian. Ada pula yang membutuhkan tempat menginap selama urusannya di Padang belum selesai.

“Paling sekitar 3.000 kunjungan. Dari yang sekadar istirahat, ganti pakaian sampai mereka yang butuh menginap, kita layani di rumah ini,” kata Donizar.

Menurut Donizar, rumah singgah itu didirikan setelah melihat kesulitan masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah, dalam memperoleh tempat beristirahat atau menginap ketika berada di Padang.

Pada awalnya, rumah singgah banyak dimanfaatkan warga Pasaman dan Pasaman Barat, termasuk pemegang Kartu Sahabat Donizar. Seiring waktu, pelayanan diperluas dengan pertimbangan kebutuhan masyarakat dan nilai kemanusiaan.

Warga yang datang untuk berobat, mendampingi anggota keluarga yang sakit, mengurus pendaftaran perguruan tinggi, hingga mengikuti seleksi penerimaan anggota TNI dan Polri dapat memanfaatkan rumah tersebut.

Sebab, kebutuhan akan tempat singgah tidak selalu datang ketika seseorang menghadapi keadaan darurat. Ada pula keluarga yang harus tinggal beberapa hari demi pengobatan, orang tua yang menemani anak mengikuti seleksi, atau peserta yang datang dari jauh untuk memperjuangkan masa depan.

Baca Juga:Tim Elang Timur Polres Pasaman Amankan Kurir Ganja Asal Sijunjung, 21 Paket Besar Disita

Di balik setiap kunjungan, ada urusan yang harus dituntaskan dan harapan yang ingin dibawa pulang.

Enam Kamar, Sejuta Arti

Pengurus rumah singgah, Robbi, menyebut fasilitas tersebut memiliki Enam kamar tidur. Ruang tamu dan satu ruang lepas untuk pertemuan. Tersedia pula kamar mandi, sajadah, peralatan memasak, serta perlengkapan makan dan minum.

Fasilitas itu memungkinkan penghuni memenuhi kebutuhan dasar tanpa harus selalu mengeluarkan uang untuk membeli makanan di luar. Bagi mereka yang tinggal beberapa hari, penghematan kecil dapat berarti besar.

Fasilitas rumah singgah disebut juga dilengkapi kebutuhan dapur dan bahan makanan, seperti beras dan telur, serta kopi, teh, gula, dan akses internet atau Wi-Fi.

Kelengkapan tersebut membantu warga menjalani aktivitas sehari-hari selama berada jauh dari rumah. Mereka dapat menyiapkan makanan sendiri, beristirahat, dan menghubungi keluarga tanpa harus sepenuhnya bergantung pada fasilitas berbayar.

Bagi keluarga pasien, misalnya, pengeluaran selama mendampingi orang sakit tidak berhenti pada ongkos perjalanan. Kebutuhan makan, transportasi lokal, dan tempat tinggal dapat menjadi beban tambahan, terutama jika pengobatan berlangsung lebih lama daripada perkiraan.

Rumah singgah tidak menyelesaikan seluruh persoalan itu. Namun, dengan menyediakan tempat menginap sementara dan fasilitas dasar, beban yang harus ditanggung warga setidaknya dapat dikurangi.

Rumah tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan, berkonsultasi, atau berdiskusi dengan Donizar dan timnya ketika kesempatan tersedia.

Di sana, kebutuhan warga tidak selalu berkaitan dengan politik maupun pembangunan. Ada persoalan sederhana yang mendesak, mencari tempat tidur, menyiapkan makanan, atau memperoleh tempat beristirahat setelah seharian mengurus anggota keluarga yang sakit.

Dalam keadaan seperti itu, bantuan tidak harus selalu hadir dalam bentuk besar. Terkadang, tersedianya tempat untuk merebahkan tubuh sudah cukup membantu seseorang mengumpulkan tenaga untuk kembali berjuang esok hari.

Manfaat rumah singgah juga dirasakan warga yang datang ke Padang untuk kepentingan di luar pengobatan.

Pada Juni 2026, rombongan Perguruan Silat Benteng Murni dari Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, memanfaatkan fasilitas tersebut saat mengikuti kejuaraan pencak silat di Gelanggang Olahraga Universitas Negeri Padang (UNP).

Bagi rombongan yang datang dari daerah, kebutuhan akomodasi menjadi salah satu hal yang harus dipersiapkan sebelum bertanding. Biaya penginapan yang dapat ditekan memberi ruang bagi peserta untuk lebih berkonsentrasi menghadapi kejuaraan.

Perwakilan rombongan menyampaikan terima kasih atas fasilitas yang mereka peroleh.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Donizar yang telah menyediakan rumah singgah sehingga kami bisa lebih fokus mengikuti pertandingan,” ujar perwakilan rombongan.

Kehadiran rombongan pesilat itu memperlihatkan bahwa rumah singgah memiliki fungsi yang lebih luas. Bukan hanya menjadi tempat berlindung bagi keluarga yang sedang menghadapi persoalan kesehatan, melainkan juga mendukung warga yang berjuang di bidang pendidikan, olahraga, dan berbagai kepentingan lainnya.

Setiap kelompok datang dengan tujuan berbeda. Namun, mereka menghadapi kebutuhan yang sama ketika berada jauh dari rumah: tempat untuk beristirahat tanpa harus menambah beban biaya secara berlebihan.

Kemanusiaan Melampaui Sekat Politik

Pada Januari 2026, perhatian publik terhadap rumah singgah bagi warga Pasaman dan Pasaman Barat di Padang meningkat setelah muncul pemberitaan mengenai penghuni rumah singgah di Jalan Haji Abdullah Ahmad, Kecamatan Padang Timur, yang diusir dari tempat tersebut.

Peristiwa itu sempat dikaitkan dengan Rumah Singgah Sahabat Donizar. Namun, Donizar menegaskan bahwa rumah singgah di lokasi tersebut bukan miliknya dan tidak memiliki hubungan dengan rumah singgah yang dikelolanya.

Donizar juga menjelaskan bahwa pada masa awal pendirian, rumah singgahnya memang diprioritaskan bagi pemegang Kartu Sahabat Donizar. Dalam perkembangannya, ketentuan tersebut diubah dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

“Tidak mungkin orang sakit kami suruh pergi atau tidak kami izinkan menginap hanya karena tidak punya kartu atau tidak memilih saya saat pileg,” ujar Donizar.

Pernyataan itu menegaskan bahwa akses terhadap bantuan kemanusiaan semestinya tidak ditentukan oleh pilihan politik seseorang. Ketika seseorang datang dalam keadaan kesulitan, kebutuhan mendesak yang dihadapinya perlu menjadi perhatian utama.

Orang yang mendampingi pasien, misalnya, tidak semestinya kehilangan kesempatan memperoleh tempat beristirahat hanya karena tidak memiliki kartu tertentu. Begitu pula warga yang datang untuk pendidikan atau mengikuti seleksi, yang mungkin sedang mengupayakan masa depan dengan sumber daya terbatas.

Meski demikian, keberadaan rumah singgah yang dikelola secara sosial belum menghilangkan kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal sementara yang aman, layak, dan terjangkau di kota tujuan.

Keluarga pasien tetap membutuhkan tempat untuk bertahan selama pengobatan. Warga dari daerah juga membutuhkan dukungan agar persoalan akomodasi tidak menjadi penghalang dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan, maupun kesempatan lainnya.

Rumah Singgah Sahabat Donizar menjadi salah satu bentuk upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut, khususnya bagi masyarakat yang datang ke Padang tanpa memiliki kerabat atau tempat menginap.

Ruang Menjaga Harapan

Tidak semua orang yang datang ke Padang membawa kemampuan untuk membayar penginapan selama berhari-hari. Sebagian datang dengan biaya yang telah diperhitungkan ketat. Sebagian lainnya harus menghadapi kebutuhan mendadak ketika anggota keluarga jatuh sakit.

Dalam situasi demikian, tempat singgah dapat menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Ada ruang untuk melepas lelah, menyiapkan makanan, menghubungi keluarga, dan menyusun kembali langkah sebelum melanjutkan urusan yang belum selesai.

Sejak dirintis pada 2018, Rumah Singgah Sahabat Donizar telah dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan masyarakat. Jumlah kunjungan yang disampaikan Donizar, serta pemanfaatannya oleh rombongan pesilat pada Juni 2026, menunjukkan bahwa kebutuhan akan tempat singgah datang dari berbagai kelompok.

Donizar berharap rumah tersebut dapat terus menjadi tempat bernaung sementara bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kami ingin rumah ini menjadi tempat bernaung sementara bagi saudara-saudara kita dari berbagai daerah. Bukan hanya sekadar tempat tidur, tapi juga tempat berbagi semangat dan harapan,” kata Donizar.

Arti sebuah rumah singgah tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah kamar, perlengkapan dapur, atau fasilitas yang tersedia. Nilainya juga terletak pada kesempatan yang diberikan kepada orang lain untuk bertahan di tengah kesulitan.

Bagi keluarga yang sedang menunggu kabar dari rumah sakit, tempat beristirahat dapat membantu mereka menjaga tenaga. Bagi anak muda yang mengikuti seleksi, tempat menginap memberi kesempatan untuk mempersiapkan diri. Bagi atlet dari daerah, rumah singgah membantu mereka memusatkan perhatian pada pertandingan.

Mereka mungkin datang dengan persoalan yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak sebelum kembali melangkah.

Jauh dari kampung halaman, rumah tidak selalu berarti bangunan tempat keluarga berkumpul. Kadang-kadang, rumah adalah tempat sederhana yang membuka pintu ketika seseorang tidak tahu harus beristirahat di mana.

Di tempat itulah lelah mendapat jeda, pengeluaran bisa ditekan, dan harapan memperoleh kesempatan untuk tetap hidup.(02)