Virus Nipah Muncul Lagi di India, Menkes Minta Warga RI Hati-Hati Konsumsi Buah Tanpa Kulit

Jakarta, Kabarins.com – Kabar kemunculan kembali kasus virus Nipah di India membuat alarm kewaspadaan berbunyi di Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merespons potensi ancaman ini dengan imbauan yang sangat praktis dan menyentuh kebiasaan makan sehari-hari masyarakat. Dalam kunjungannya di Solo, Jumat (30/1/2026), Menkes meminta warga untuk sementara waktu lebih selektif dalam mengonsumsi buah-buahan, mengingat kelelawar buah disinyalir menjadi vektor utama penyebaran virus mematikan ini.

Budi menjelaskan bahwa risiko penularan bisa terjadi melalui paparan air liur atau urine kelelawar yang menempel pada buah. Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk menghindari buah-buahan yang kulitnya terbuka atau yang dijual dalam keadaan sudah terpotong tanpa jaminan kebersihan. Sebagai gantinya, ia merekomendasikan konsumsi buah berkulit tebal dan tertutup rapat seperti jeruk, yang harus dikupas sendiri sesaat sebelum dimakan. Logikanya sederhana namun krusial: kulit buah berfungsi sebagai ‘tameng’ alami yang melindungi daging buah dari kontaminasi eksternal.

banner 728x90

Baca Juga: Jabat Ketua OJK Terbaru, Friderica Langsung Rilis Aturan Khusus Kredit Korban Bencana Sumatera

Pernyataan Menkes bahkan melangkah lebih jauh demi keamanan maksimal. Ia menyebutkan bahwa jika masyarakat masih merasa ragu atau khawatir, langkah paling aman adalah mengonsumsi makanan yang dimasak hingga matang sempurna, seperti nasi dan lauk-pauk, atau buah yang diolah melalui proses pemanasan. Menurutnya, memastikan makanan matang adalah benteng pertahanan nomor satu untuk memutus rantai penularan penyakit zoonosis ini.

Di luar imbauan pola makan, Kementerian Kesehatan juga telah bergerak cepat dari sisi teknis medis. Budi memastikan bahwa pemerintah tidak dengan tangan kosong menghadapi ancaman ini. Reagen PCR khusus untuk mendeteksi virus Nipah telah disiapkan dan didistribusikan dari pusat ke laboratorium-laboratorium kesehatan milik pemerintah di berbagai daerah. Strategi desentralisasi alat deteksi ini bertujuan memangkas waktu tunggu; jika ada kasus suspek di daerah, pemeriksaan bisa langsung dilakukan tanpa harus mengirim sampel ke Jakarta yang memakan waktu.

Baca Juga: Pesta Usai, Emas Terjun Bebas ke Bawah US$5.000

Langkah preventif ganda ini—edukasi perilaku makan dan kesiapan deteksi dini—diharapkan mampu menjadi perisai bagi Indonesia. Masyarakat diminta tetap waspada menjaga kebersihan diri dan makanan, namun tidak perlu panik berlebihan karena sistem deteksi dini telah disiagakan di seluruh penjuru negeri. (15)

banner 728x90